Skip to main content

Posts

Showing posts from 2013

New Year Eve

Pergantian tahun kali ini sama saja dengan tahun kemarin, tak banyak perbedaan. Dirumah, ketak ketik handphone, browshing, habis itu bantu-bantu mama dan bulek bbq-an. Lalu tidur dengan perut kekenyangan hehe. Bosan sebenarnya tapi mau bagaimana lagi. Sudah 2 tahun absen tahun baruan dengan Pience, perempuan-perempuan aneh itu sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing. Saya sibuk mengemas kebosanan saya dengan nulis blog. Sudah hampir setahun absen menulis, benar-benar menulis maksudnya. Selama 2013 ini kebanyakan tulisan saya, sudah ditulis sejak lama. Pacar mesti merayakan tahun barunya dengan keluarga, lewat acara tahunan orang Batak, namanya Mandok Hata, saya kurang paham bagaimana menulisnya hehe. Sementara teman yang lain sudah punya perayaan masing-masing. Tahun ini saya hanya berempat dirumah saya, Dindut, mama, dan lek Turi, si papa tahun baruan dengan Pak Lurah di Kelurahan, Saqi mungkin dengan teman/pacarnya, Fajar sudah berangkat ke Puncak sejak kemarin dengan teman-tema...

Tubuh Ibu

sebuah rujukan untuk Nya : katakanlah aku “jalang..” karna tak bisa ku penuhi hasrat mu atau, sebut aku “kotor..” kalau tak dapat ku daki tebing tertinggi mu karena di balik kemeja mu lah hidup ku, kau jahit meski aku harus robek dan, memang sudah maka ku beri izin kau untuk pereteli jiwa ku dan silahkan telanjangi nurani ku supaya anak-anak ku berhenti menangis tiap kali lihat seragam dan tidak lagi makan nasi aking.. 22 Desember, 2009 Ms. A,

Cuma Lupa Kok..

Negeri ku memang sudah tua, Jadi ingatannya juga terkadang jadi pelupa Terlebih lagi sekarang ini akan ada pesta, Yang di stempeli demokrasi katanya Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya Langsung senang kalau di suguhi panggung besar dengan penyanyi dangdut bergincu merah, Lalu lupa kalau di tempat yang sama pernah ada hujan air mata dan banjir darah Langsung girang walau cuma dapat kaos dengan warna warni terang, Lalu lupa kalau dulu kita pernah di adu domba satu sama lain supaya saling perang Langsung ceria meski terik panas membara di barter dengan lembar uang ribuan, Lalu lupa kalau nanti mereka bertahta kita akan kembali jadi pesakitan Dan sepulang dari hajatan, Kelaparan kembali mendera Negeri ku memang sudah tua, Jadi maaf saja kalau sering lupa 14 Juni 2009, 2009, pas nih. jaman-jamannya mau pemilu jaman dulu. umur juga belum 17 tahun. belum bisa ikut nyoblos :)  Ms. A,

Suatu Malam dengan Ibu

“Bu aku mau lahir malam ini” “jangan Nak, dunia itu jahat!” “tapi aku mau Bu..” “lalu nanti kita mau makan apa Nak” “memangnya kenapa Bu?” “Bapak baru di PHK..” “PHK? PHK itu apa Bu” “PHK berarti Bapak berhenti bekerja dan jadi pengangguran..” “aku tidak mengerti Bu” “banyak yang tidak kau mengerti Nak” “ajari aku supaya mengerti Bu.. aku mau lahir” “lebih baik kita tidur Nak, sudah larut malam” Esok paginya, Minarsih berniat kembali menjadi buruh cuci, namun ketika ia baru selangkah menginjak lantai kamar mandinya, perutnya amat sakit. Cairan ketubannya meleleh melewati pangkal betis, lalu semua jadi gelap. “innalillahi wa innalilahi ro’jiun.. yang tabah ya No..” ujar Bu Candra menabahi Sutarno. Yang di tinggalkan hanya terdiam menatapi seorang bayi laki-laki dalam gendongan kakak perempuannya, matanya beralih pada kain batik yang menutupi tubuh satu-satunya perempuan yang paling istimewa dalam hidupnya. Andai ia mengikuti saran kakaknya untuk menggugurkan kandungan an...

Senja Tua di Jakarta

Langit yang telah masak Burung-burung gereja di atas genting Lambat-lambat dilumatnya matahari Dan lampu-lampu jalanan sudah mulai bersolek genit Berhenti juga detik dan menit Seorang pengamen yang berdendang lantang ; Oh, kota mu yang semakin muda Ataukah senjaku yang mulai menua Sabtu, 27 Juli 2013 17. 55 Ms. A,

doa subuh

Engkau yang Maha Adil Untuk mereka-mereka yang kepalanya di tebas dalam kegelapan Sebelum mereka tau apa itu terang Yang gereja-gerejanya dirubuhkan Atau masjid-masjidnya dihancurkan Mereka yg masih sempat menyebut nama Mu Sejenak sebelum dibumi hanguskan Adakah adil-Mu terukir dalam sebilah pedang? Dengan nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha penyayang. Amin. Selasa, 23 Juni 2013  04 : 25

hidup

Saya berdiri di depan loket administrasi kampus, BAAK. di depannya terpampang dengan huruf kapital  ‘FIS’ atau Fakutas Ilmu Sosial. ini loket bagian untuk mahasiswa FIS. Waktu berdesing pusing di hadapan saya.  Cepat sekali seakan tak pernah rela dikejar. Tiga tahun yang lalu, saya menahan sebuah batu besar dalam dada yang sekarang sudah pecah jadi pasir. Rontok oleh waktu pula. Betapa ia bijak sekaligus bangsat. Di depan loket yang sama di hari pertama datang, saya adu diam di bawah pohon dengan seseorang yang memaksa saya untuk ikut mengantri. Bersaing,  entah apa dengan ratusan manusia lainnya yang berderet mengular.  Saya masih enggan mengantri. Saya tahan air mata yang ingin jatuh menetes, mestinya kala itu saya lebih pantas kembali ke bangku taman kanak-kanak. Dimana ada mama, dan papa yang mengantri mendaftarkan saya sekolah. Saya hanya diam menunggu sambil main perosotan. Hari berikutnya, di depan loket ini dengan kaki lecet-lecet karna membeli sepat...

Pulang

senja bilang pada malam ia pasti datang sebelum itu kita mesti pulang kesanakah, dimana kau sebut ada titik terang atau yang ku harap sebuah tanah lapang kerikil-keril pada jalan yang panjang luka-luka kecil yang harus dijerang lalu kemanakah kita mesti pulang? terkadang aku ingin pulang sebelum berperang.. selasa, 26 Februari 2013 02:16 Ms. A,

Api

panas ego Mu nyala merah itu  adalah yang menghanguskan sebagian ku digenggamnya bara-bara itu biar jadi luka perihnya sendiri lidah-lidah api yang memercik pedih Bogor, 5 Februari 2013 23:59 Ms. A,

bola-kaca

Kalau aku kemarau, kau jadilah hujan ku Meski aku tau kita tak mungkin berjalan bersisian Manika terus saja mengguncang-guncang bola kaca berisi air dan salju miliknya.  Ia tak peduli orang-orang disekelilingnya sibuk menyiapkan segala persiapan untuk acara pernikahan adiknya. Manika hanya ingin terus duduk di atas kursi rodanya, mengoyangkan benda ditangannya lalu diam memperhatikan salju buatan di dalam bola kaca turun perlahan . Ia tak dapat mengerti apa yang mereka rayakan. Kebahagiaan kah? Atau kesedihan yang dirasakan ramai-ramai? Ia tak paham mengapa semua begitu sibuk berjalan kesana kemari tanpa memperhatikan keberadaan dirinya yang sudah duduk disana sedari pagi. Ia pun tak mengerti mengapa ibunya memakaikannya gaun merah muda cantik yang tak biasa dan hiasan pita berwarna selaras dengan gaunnya yang disimpul di atas rambutnya yang diikat satu. Ia terus saja menontoni bola kacanya. Menunggu setiap butiran salju buatan di dalamnya menetes satu persatu, lalu menggu...

siklus

Pagi belum selesai dijerang Malam, meninggalkan pekatnya lewat suara Sayup dari balik jendela Ingatan mengintip lewat celahnya Yang begitu berdebu, Adakah yang lebih kau tunggu? Selain pagi, Yang sesejuk ayunan angin dari hati mu, Namun, aku tetap perdu liar Yang tak mampu jadi mawar baru ditulis ulang sejak 2010, kamis, 3 Desember 2013 Ms. A,