Kalau aku kemarau, kau jadilah hujan ku
Meski aku tau kita tak mungkin berjalan
bersisian
Manika terus saja mengguncang-guncang bola kaca berisi air dan salju
miliknya. Ia tak peduli orang-orang
disekelilingnya sibuk menyiapkan segala persiapan untuk acara pernikahan
adiknya. Manika hanya ingin terus duduk di atas kursi rodanya, mengoyangkan
benda ditangannya lalu diam memperhatikan salju buatan di dalam bola kaca turun
perlahan . Ia tak dapat mengerti apa yang mereka rayakan. Kebahagiaan kah? Atau
kesedihan yang dirasakan ramai-ramai? Ia tak paham mengapa semua begitu sibuk
berjalan kesana kemari tanpa memperhatikan keberadaan dirinya yang sudah duduk
disana sedari pagi. Ia pun tak mengerti mengapa ibunya memakaikannya gaun merah
muda cantik yang tak biasa dan hiasan pita berwarna selaras dengan gaunnya yang
disimpul di atas rambutnya yang diikat satu. Ia terus saja menontoni bola
kacanya. Menunggu setiap butiran salju buatan di dalamnya menetes satu persatu,
lalu mengguncangnya lagi. Begitu seterusnya..
******
Maka jadilah hujan ku yang terakhir
Dan basahi rerumputan yang mengering dimakan
panas
Rama memakir mobilnya di depan sebuah toko bunga. Beberapa tangkai bunga lili segar sudah dalam genggaman
tangannya ketika ia bergegas lagi kembali ke dalam mobil setelah keluar dari
toko bunga tersebut. Ia menatap jalan-jalan yang basah habis tersiram gerimis
tadi siang. Aroma lili yang masih segar memenuhi ruang dalam mobilnya, ia
menghirupnya dalam-dalam. Berusaha meraup segala rasa bahagia yang hampir
meledak di dalam dadanya. Ia akan melamar gadis yang ia pacari sejak 42 bulan
yang lalu, Manika namanya. Gadis yang mampu membuatnya jatuh cinta, berkali-kali,
berulang-ulang. Seolah-olah Manika bukanlah satu orang yang sama. Ia tak pernah
bosan jatuh cinta pada Manika. Dan hari ini mungkin Rama akan memutuskan untuk berhenti
jatuh cinta pada Manika. Ia sudah memutuskan untuk mencintainya, menjadikan
Manika pendampingnya sampai tua.
******
Kalau hanya karna kemarau datang lebih awal
sebelum hujan
Aku tak tau bagaimana cara mengeja nama mu..
Sebab kita tak pernah benar-benar bertemu
Alya dan ibunya terdiam lesu ketika dokter menvonis kakak perempuannya terkena
sindrom Susac. Sebuah penyakit dengan gejala aneh, tiba-tiba Manika tidak bisa mengingat beberapa
kejadian penting di dalam hidupnya setelah ia diserang oleh sebuah penyakit
neurological yang cukup aneh dan langka, kata dokter setelah seminggu menelaah
penyakit aneh yang tiba-tiba dialami oleh Manika. Manika sangat frustasi dan
sempat diserang rasa stress. Tak berhenti di situ, salah satu hal yang paling
mengganggunya adalah rasa bingung yang terus-menerus. Selain itu, Manika juga
mengalami sesuatu yang disebut delusional. Sindrom Susac yang mempunyai nama
lain Retinocochleocerebral Vasculopathy,
adalah sebuah keadaan yang bisa dikatakan sangat langka terjadi. Kondisi
tersebut terjadi akibat adanya kerusakan dari fungsi otak (encephalopathy), terhambatnya atau terjadinya penyumbatan (oklusi)
pada pembuluh arteri dan menghambat aliran darah menuju retina mata dan
kehilangan pendengaran. Ibu Manika tak bisa berkata-kata lebih dari apa yang
disampaikan dokter, pada Rama. Ia tak punya komentar lain yang bisa ditambahkan
selain, menyampaikan sesuai yang dokter bilang di Rumah Sakit. bahkan saran dan
nasihat pun tak sampai hati disampaikannya, padahal ingin. Rama juga tak tau
harus bagaimana. Sudah sebulan ini sejak Manika berubah jadi orang asing
baginya, ia taklagi tau harus melakukan apa-apa selain berdoa.
******
Betapa rindu tak tau apa itu perilaku
Atau sekedar bertata krama dalam bertamu
Rama memandangi dirinya di cermin. Ia menghela nafasnya panjang, terdiam
memaku, lalu duduk di atas ranjang kamarnya, masih memandangi pantulan dirinya
sendiri di cermin. Ia tampak tampan dan gagah dengan setelan jas hitamnya. Hari
ini hari bahagianya, ia akan menikah dan memulai anak tangga yang lebih tinggi
dalam hidupnya. Ia akan menjadi seorang suami dan calon ayah untuk anak-anaknya
kelak. Pernikahan tak lagi bisa dibatalkan, sebab kabar sudah berkembang, masing-masing pihak keluarga berasal dari kalangan atas, pertaruhan nama sama beratnya bagai langkah kaki Rama pagi itu.
Semua orang sudah bergegas, sebentar lagi ia dan keluarganya akan berangkat ke tempat pernikahannya dilaksanakan. Sebentar lagi ruangan kamar di tempat ia berdiri akan terisi satu orang lagi, begitu pula ruang di hatinya. Ia akan mempersilahkan seseorang mendiami ruang-nya untuk waktu yang lama, atau sebutlah selamanya. Tiba-tiba ia rindu pada seseorang. Dan rindu ini mulai bergelayut di kakinya, menahannya untuk berjalan ke luar kamar., dimana semua orang menunggunya untuk memulai perjalanan, ke rumah sang calon mempelai.
Semua orang sudah bergegas, sebentar lagi ia dan keluarganya akan berangkat ke tempat pernikahannya dilaksanakan. Sebentar lagi ruangan kamar di tempat ia berdiri akan terisi satu orang lagi, begitu pula ruang di hatinya. Ia akan mempersilahkan seseorang mendiami ruang-nya untuk waktu yang lama, atau sebutlah selamanya. Tiba-tiba ia rindu pada seseorang. Dan rindu ini mulai bergelayut di kakinya, menahannya untuk berjalan ke luar kamar., dimana semua orang menunggunya untuk memulai perjalanan, ke rumah sang calon mempelai.
******
Aku jatuh,
pada mu.
Manika masih
asyik memainkan bola kaca berisi saljunya. Kemudian ibunya datang dari dalam
rumah, ke teras. Menghampirinya, membisikan sesuatu yang hanya sedikit
dimengerti oleh Manika. Namun Manika
tetap mengangguk, ibunya masuk lagi kedalam lalu memanggil seorang perawat yang
keluar dari dalam rumah lalu menghampiri Manika di teras. Perawat itu membujuk
Manika untuk menaruh bola kaca-nya, namun di tolak, Manika memegang erat-erat
bola kaca miliknya, seolah seorang pencuri akan mengambilnya dari Manika.
Tak lama
kemudian beberapa mobil berhenti di depan rumah. Segerombolan orang yang asing bagi Manika,
masuk ke dalam terasnya. Mereka semua terlihat membawa hantaran pernikahan. Bunga-bunga
ditebar kan halaman. Mereka berjalan melewati Manika. Manika diam saja, ia tak
mengenal siapa mereka itu yang datang, yang ia tahu hanya menggenggam erat bola
kaca-nya. Seorang laki-laki tampan yang terlihat paling menonjol diantara
segerombolan orang-orang yang datang tak bisa melepaskan pandangannya dari
Manika. Manika menatap matanya lekat-lekat. Mereka saling berpandangan dalam
diam. Laki-laki itu kemudian menundukan matanya, tak sanggup membalas tatapan
mata Manika yang polos. Gerombolan itu akhirnya selesai melewati Manika,
kemudian mulai masuk ke dalam rumah besar yang penuh hiasan pernikahan
dimana-mana itu.
Manika terdiam. Lama
sekali. Kemudian ia melepas bola kaca saljunya. Yang jatuh membentur lantai
karna terlambat ditangkap oleh perawatnya yang juga sedang asyik memperhatikan
iringan pengantin pria yang baru datang. Air keluar dari pecahan bola salju
yang pecah jadi serpihan kaca. Salju buatan di dalamnya berhamburan di lantai. Manika terdiam, ingatannya datang dan pergi
begitu cepat di kepalanya, sakitnya seperti pukul dengan palu godam. Tapi ia masih
tak mengerti jenis perasaan apakah yang sedang ia rasakan, apakah sedang
bahagia atau kesedihan yang mendera seketika. Air matanya meluncur satu
persatu.
******
Namun
tak kau lihat
Terkadang
malaikat tak bersayap,
Tak
cemerlang, tak rupawan
(Dewi Lestari – Malaikat Juga Tahu)
“kamu jadi istri ku ya? Jadi ibu
untuk anak-anak ku suatu hari nanti. Aku akan jadi Ayah yang baik untuk
jagoan-jagoan ku kelak” ujar Rama sambil berlutut. Tangannya membuka sebuah
kotak berisi cincin yang berkilat terkena lampu taman.
“i.. i iya.. aku gatau harus jawab
apa..” jawab Manika sambil meneteskan air mata haru.
“ini buat kamu. Happy anniversary
yang ke 42 bulan sayang.. dan ini juga buat kamu, buka deh” ujar Rama sambil memakaikan cincin di jari
manis Manika, lalu memberikan bunga lili yang ia beli tadi sore dan sebuah
kotak hitam berukuran sedang. Manika membuka kotaknya, mengeluarkan sebuah bola
kaca berisi salju buatan dengan hiasan plastik di dalamnya.
“ini isinya cita-cita kita. Suatu hari
nanti aku akan jadi orang sukses, kita akan tinggal di Perancis, negara
kesukaan mu. Aku akan jadi suami dari desainer yang terkenal dari Indonesia
yang berkarir di Perancis. Kota mode dunia, dan Aku akan jadi Pak Pilot keren yang
mampu membawa anak-anak kita berkeliling
melihat dunia seperti kata mu. kita akan kesana, aku janji. Menikah ya dengan
ku.”
Manika hanya tertawa sambil menyeka
air matanya.
Ia tak bisa lagi membedakan ini
kebahagiaan yang terlalu atau kesedihan.
******
Namun
kasih ini, silakan kau adu
Malaikat
juga tahu
Siapa
yang jadi juaranya
(Dewi Lestari – Malaikat Juga Tahu)
Air keluar dari pecahan bola salju
yang pecah jadi serpihan kaca. Salju buatan di dalamnya berhamburan di lantai. Manika terdiam, ingatannya datang dan pergi
begitu cepat di kepalanya, sakitnya seperti pukul dengan palu godam. Tapi ia masih
tak mengerti jenis perasaan apakah yang sedang ia rasakan, apakah sedang
bahagia atau kesedihan yang mendera seketika. Air matanya meluncur satu
persatu.
Ia tak bisa lagi membedakan ini
kebahagiaan yang terlalu atau kesedihan.

Comments
Post a Comment