Kalau aku kemarau, kau jadilah hujan ku Meski aku tau kita tak mungkin berjalan bersisian Manika terus saja mengguncang-guncang bola kaca berisi air dan salju miliknya. Ia tak peduli orang-orang disekelilingnya sibuk menyiapkan segala persiapan untuk acara pernikahan adiknya. Manika hanya ingin terus duduk di atas kursi rodanya, mengoyangkan benda ditangannya lalu diam memperhatikan salju buatan di dalam bola kaca turun perlahan . Ia tak dapat mengerti apa yang mereka rayakan. Kebahagiaan kah? Atau kesedihan yang dirasakan ramai-ramai? Ia tak paham mengapa semua begitu sibuk berjalan kesana kemari tanpa memperhatikan keberadaan dirinya yang sudah duduk disana sedari pagi. Ia pun tak mengerti mengapa ibunya memakaikannya gaun merah muda cantik yang tak biasa dan hiasan pita berwarna selaras dengan gaunnya yang disimpul di atas rambutnya yang diikat satu. Ia terus saja menontoni bola kacanya. Menunggu setiap butiran salju buatan di dalamnya menetes satu persatu, lalu menggu...