Perempuan tua itu masih memandang jendela yang berembun bekas hujan tadi malam. Dibukanya lebar-lebar pintu jendela kamarnya, hingga angin dingin dengan sembrono masuk ke dalam ruangan, menyakiti kulitnya yang mulai menua. Arah matanya memandang ke arah langit yang muram masih mendung, tapi hujan sudah berhenti sejak subuh tadi. Masih pukul 6 pagi hari itu. Kelopaknya yang keriput mengerjap sesekali, kemudian menetes hujan asin dari sana. Ia menangis dalam diam. Dalam hati ia merapalkan doa-doa yang ditangkap udara pagi dan dibawa kepada Sang Pencipta semesta. Sudah dua jam ia berdiam duduk di depan jendela kamarnya. Kalender di kamarnya bergoyang, angin masuk membuat bulan-bulan di dalam kalender berdesakan keluar. Berebut mengambil tempat untuk menonton sang empunya kamar yang terdiam di dekat jendela. Maret, April dan Agustus duduk di atas buku-buku yang masih terbuka lembarannya, bekas di baca. Januari dan Februari asik memainkan kotak musik tua di dekat meja baca,...