Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2017

Bapak

Sandal japitnya terseok lelah membelah panasnya kerikil jalan yang berserak Kaus merahnya penuh luka tak nampak Terhirup bau polusi, ilusi dan janji-janji terbentang gagah di jalan raya Setiap jalan dihiasi barisan lapis baja Seolah semua harus siap dieksekusi kapan saja Masih teringat, Bau tembakau kretek dari kantung kiri kemejanya Dengan santai, diaduknya kopi hitam dari cangkir nasib Sambil berujar "Tidurlah sayang ku, ini belum ada apa-apanya dibanding demonstrasi.." Sebulan kemudian terdengar kabar Bapak ku mati Dibunuh puisi ditulis untuk Fajar Merah :) Jakarta, 02 januari 2016 Ms. A,