Skip to main content

Posts

Showing posts from 2017

Jatung Hati

Aku melihat buruh cuci, kuli panggul, tukang masak, petani padi, guru sd, dan malaikat dalam bayangan ibu ku Aku menghirup bau tembakau, aspal jalanan, keringat lelah, hujan lebat, dan mahalnya harga pendidikan dari tangan bapak ku Maka tak lagi ku mintakan apa-apa pada mereka Selain surga,  :)  22 September 2017 Buat saya setiap hari adalah hari ibu dan ayah, tak ada ukuran usia dirumah, saya masih kanak-kanak yg seringkali minta tidur bertiga, banyak pilihan yg saya relakan demi mereka, tapi masih saja saya merasa berhutang jasa, bagaimana bisa begitu rindu dengan orang-orang yang, padahal ada di depan mata :)   , 

Bulan Merah

Lagi-lagi September Angin panas berhembus ke arah timur Jakarta Pohon-pohon pisang tertunduk sedih disinari terik matahari Kemarau rupanya datang lebih awal Aku ingat dongeng nenek ku Meninggalkan rasa ngeri, Berdua kita berpelukan, sembunyi dibalik lemari Menerka-nerka kapan datangnya hantu ingatan yang bangkit lagi, Angin malam, dingin menuju selatan Yogyakarta Menusuk pori-pori kulit kita, Sebelum petani-petani selesai panen raya Aku melihat api dimana-mana Di mata mu, dimatanya, mata mereka Membakar gabah-gabah yang baru akan dijemur Tiap September tiba Pada tanggal tiga puluh,  Kau lepas genggaman mu, Katanya aku sudah ditempel hantu Hantu ingatan yang kau simpan bertahun Kau yang ditinggal kasih mu, bapak mu, ibu mu, Kau yang ditenggelamkan massa, habis dibakar di tengah huru hara Apakah aku salah menafsirkan ingatan mu? Ataukah ini namanya rindu?  kamu benci padaku sebab aku hinggap diingatan mu Selalu,...

Mudik

Esensi lebaran Meski mengular panjang Tradisi menjamu rindu Yang tak bosan bertamu Kakek nenek semakin renta  Keponakan ramai ceria Sepupu-sepupu yang beranjak dewasa Saudara jauh yg tampan dan jelita Aku masih tetap sediakala Sekedar rindu pada teh kental buatan mu, Ms. A, 

Elegi

Akhirnya semua tiba Pada suatu tenggat Yang memaksa kita harus menetap Menjelma jadi musim-musim yang tak mungkin bersisian Aku serupa kemarau Yang berkali dihujat karena hanya punya panas terik Dan kau begitu tabah, seperti hujan di akhir desember Menutup tahun-tahun kesengsaraan Sampai sekarang Dari kejauhan masih dapat ku dengar suara-suara sekitar Mereka mendengung Serupa para pendeta Merapalkan nama kita dalam doa Doa yang dikirim entah pada siapa Doa-doa yang berakhir meminta Musim panas segera berakhir, atau hujan yang tidak berkepanjangan Agar lebih baik kita tiada saja, Tidak bersisian atau ditakdirkan bersama Sambil menanti pilkada Jakarta putaran kedua, 19 april 2017 03 : 11 Ms. A,

Keluarga

Masih lima belas menit lagi, jam pulang kantor Aku berlari kencang dari ruangan sewaktu dengar berita Di televisi bapak ku mengubur kakinya dalam semen-semen diam - beku dan menyakitkan Ibu ku menjahit mulutnya, bungkam - dengan luka bubut di kakinya yang masih basah Desing traktor pembangunan berlari melewati gedung-gedung marmer bertahta emas, menerobos lampu-lampu lalu lintas yang tak guna, sebab jalan penuh dengan ketidakpuasan, bising suara besi-besi marah, pagi ingin cepat cari uang, malam ingin cepat pulang Ini kaki, lelah berlari ibu dan bapak, menanam padi dan kopi tapi tak tau seperti apa rasanya Aku mengejar senja yang berarak Terlewati  juga gang-gang sempit Rumah-rumah bordil Investasi bisnis lendir Tembok kokoh yang dipagari deretan manusia baja Raja-raja kecil Bicara soal tender, investasi, dan negosiasi atas nama orang-orang kere Tawanya nyaring dibawa angin sore Lagi, ku ingat janji bapak ibu bangun sebelum fajar Supaya aku termasuk...

Bapak

Sandal japitnya terseok lelah membelah panasnya kerikil jalan yang berserak Kaus merahnya penuh luka tak nampak Terhirup bau polusi, ilusi dan janji-janji terbentang gagah di jalan raya Setiap jalan dihiasi barisan lapis baja Seolah semua harus siap dieksekusi kapan saja Masih teringat, Bau tembakau kretek dari kantung kiri kemejanya Dengan santai, diaduknya kopi hitam dari cangkir nasib Sambil berujar "Tidurlah sayang ku, ini belum ada apa-apanya dibanding demonstrasi.." Sebulan kemudian terdengar kabar Bapak ku mati Dibunuh puisi ditulis untuk Fajar Merah :) Jakarta, 02 januari 2016 Ms. A,