Skip to main content

Jatung Hati

Aku melihat buruh cuci, kuli panggul, tukang masak, petani padi, guru sd, dan malaikat dalam bayangan ibu ku

Aku menghirup bau tembakau, aspal jalanan, keringat lelah, hujan lebat, dan mahalnya harga pendidikan dari tangan bapak ku

Maka tak lagi ku mintakan apa-apa pada mereka
Selain surga, 

:) 


22 September 2017







Buat saya setiap hari adalah hari ibu dan ayah, tak ada ukuran usia dirumah, saya masih kanak-kanak yg seringkali minta tidur bertiga, banyak pilihan yg saya relakan demi mereka, tapi masih saja saya merasa berhutang jasa, bagaimana bisa begitu rindu dengan orang-orang yang, padahal ada di depan mata :) 

Comments

Popular posts from this blog

Surat

Semalam, sebelum matahari membelah dirinya sendiri, dan terbenam bukan pada barat atau timur. Ibu menyuruh ku menutup jendela dan mencegah angin musim dingin masuk dan bertamu. Lalu menyakiti ku yang masih ingin berlindung dalam selimut. yang hangatnya tak pernah lebih atau menang atas rasa hangat yang dari hati mu, pada ku. Dan tiba-tiba saja aku ingin menulis sebuah surat untuk kau, yang sedang berkelana nun jauh entah dimana. Aku ingin tau apa kau juga merasakan dinginnya angin malam musim dingin seperti ku saat ini. Apa kau juga sedang berlindung dalam selimut seperti ku saat ini. Dan yang akan selalu aku ingin ketahui, apa kau juga rindu lalu ingin menulis surat untuk ku seperti yang ku rasakan saat ini. Atau malah kau sedang sibuk menjelajahi dunia, dan lupa pada ku. Lupa pada kita?. Kalau sudah begini aku tak bisa lagi menguasai hati ku sendiri, yang sudah sesak dirasuki rasa keingintahuan ku, atas keberadaan diri mu. Juga dengan hati mu. Ku tulis sebuah surat yang k...

Mudik

Esensi lebaran Meski mengular panjang Tradisi menjamu rindu Yang tak bosan bertamu Kakek nenek semakin renta  Keponakan ramai ceria Sepupu-sepupu yang beranjak dewasa Saudara jauh yg tampan dan jelita Aku masih tetap sediakala Sekedar rindu pada teh kental buatan mu, Ms. A, 

Tubuh Ibu

sebuah rujukan untuk Nya : katakanlah aku “jalang..” karna tak bisa ku penuhi hasrat mu atau, sebut aku “kotor..” kalau tak dapat ku daki tebing tertinggi mu karena di balik kemeja mu lah hidup ku, kau jahit meski aku harus robek dan, memang sudah maka ku beri izin kau untuk pereteli jiwa ku dan silahkan telanjangi nurani ku supaya anak-anak ku berhenti menangis tiap kali lihat seragam dan tidak lagi makan nasi aking.. 22 Desember, 2009 Ms. A,