Skip to main content

Bulan Merah




Lagi-lagi September
Angin panas berhembus ke arah timur Jakarta
Pohon-pohon pisang tertunduk sedih disinari terik matahari
Kemarau rupanya datang lebih awal
Aku ingat dongeng nenek ku
Meninggalkan rasa ngeri,
Berdua kita berpelukan, sembunyi dibalik lemari
Menerka-nerka kapan datangnya hantu ingatan yang bangkit lagi,

Angin malam, dingin menuju selatan Yogyakarta
Menusuk pori-pori kulit kita,
Sebelum petani-petani selesai panen raya
Aku melihat api dimana-mana
Di mata mu, dimatanya, mata mereka
Membakar gabah-gabah yang baru akan dijemur


Tiap September tiba
Pada tanggal tiga puluh, 
Kau lepas genggaman mu,
Katanya aku sudah ditempel hantu
Hantu ingatan yang kau simpan bertahun
Kau yang ditinggal kasih mu, bapak mu, ibu mu,
Kau yang ditenggelamkan massa, habis dibakar di tengah huru hara
Apakah aku salah menafsirkan ingatan mu?

Ataukah ini namanya rindu? 
kamu benci padaku sebab aku hinggap diingatan mu
Selalu, 








Jakarta, 19 September 2017, 

Jelang September ke Oktober, entah kenapa orang-orang merasa harus ramai2 memperbincangkan sejarah kelam 1965, dan peritilan soal komunismenya, diam-diam lebih mirip perayaan tanpa pesta yang terus diulang, benci tapi terus dirayakan huft. 

- penulis adalah mantan calon guru sejarah yg memilih tidak menjadi guru, sebab kepalanya sungguh rumit, akibat seringkali takut memberi persepsi yg salah, atau insecure dengan pengetahuannya sendiri yg ia pikir selalu dangkal. Dan lebih banyak merasa tingkah lakunya belum patut jadi contoh anak-anak sekolah hihi. Peace.

Comments

Popular posts from this blog

Mudik

Esensi lebaran Meski mengular panjang Tradisi menjamu rindu Yang tak bosan bertamu Kakek nenek semakin renta  Keponakan ramai ceria Sepupu-sepupu yang beranjak dewasa Saudara jauh yg tampan dan jelita Aku masih tetap sediakala Sekedar rindu pada teh kental buatan mu, Ms. A, 

Endorphin

Kamu tau rasanya melayang tapi bukan terbang? Sekilas seperti senyum mu banyak mengambang di udara Tapi tangan terlalu lemah menangkapnya Tiap nafas ku penuh sesak harum kulit mu Euforia kenikmatan Aku ingin tinggal di dalam pikiran mu Membuat film yang isinya kamu menari Melayang-layang di ruang terbuka Kita berdua menangkapi imanjinasi Antara nyata dan khayalan Kamu tau rasanya melayang tapi bukan terbang? Menarik ku ke dimensi lain Menjelajahi mimpi ku sendiri Mendengar mu menyanyikan ku dongeng sebelum tidur Dan menepuk pundak ku agar lelap Membisikan ku puisi-puisi tentang Betapa manisnya teh buatan ku hari ini Bayangkan jika kaki mu menjauh Berlari dari euforia ini Salju meleleh di luar jendela Dingin menusuk tulang dan urat-urat ku Berpendar ke seluruh sel dan jaringan Sepi memenjarakan ku dalam nyeri Tak ada lagi hangat di dekap mimpi Aku tak ingin mendarat ke bumi Kamu, adalah adiksi “love affects our brain like a dr...

Surat

Semalam, sebelum matahari membelah dirinya sendiri, dan terbenam bukan pada barat atau timur. Ibu menyuruh ku menutup jendela dan mencegah angin musim dingin masuk dan bertamu. Lalu menyakiti ku yang masih ingin berlindung dalam selimut. yang hangatnya tak pernah lebih atau menang atas rasa hangat yang dari hati mu, pada ku. Dan tiba-tiba saja aku ingin menulis sebuah surat untuk kau, yang sedang berkelana nun jauh entah dimana. Aku ingin tau apa kau juga merasakan dinginnya angin malam musim dingin seperti ku saat ini. Apa kau juga sedang berlindung dalam selimut seperti ku saat ini. Dan yang akan selalu aku ingin ketahui, apa kau juga rindu lalu ingin menulis surat untuk ku seperti yang ku rasakan saat ini. Atau malah kau sedang sibuk menjelajahi dunia, dan lupa pada ku. Lupa pada kita?. Kalau sudah begini aku tak bisa lagi menguasai hati ku sendiri, yang sudah sesak dirasuki rasa keingintahuan ku, atas keberadaan diri mu. Juga dengan hati mu. Ku tulis sebuah surat yang k...