Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2013

Tubuh Ibu

sebuah rujukan untuk Nya : katakanlah aku “jalang..” karna tak bisa ku penuhi hasrat mu atau, sebut aku “kotor..” kalau tak dapat ku daki tebing tertinggi mu karena di balik kemeja mu lah hidup ku, kau jahit meski aku harus robek dan, memang sudah maka ku beri izin kau untuk pereteli jiwa ku dan silahkan telanjangi nurani ku supaya anak-anak ku berhenti menangis tiap kali lihat seragam dan tidak lagi makan nasi aking.. 22 Desember, 2009 Ms. A,

Cuma Lupa Kok..

Negeri ku memang sudah tua, Jadi ingatannya juga terkadang jadi pelupa Terlebih lagi sekarang ini akan ada pesta, Yang di stempeli demokrasi katanya Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya Langsung senang kalau di suguhi panggung besar dengan penyanyi dangdut bergincu merah, Lalu lupa kalau di tempat yang sama pernah ada hujan air mata dan banjir darah Langsung girang walau cuma dapat kaos dengan warna warni terang, Lalu lupa kalau dulu kita pernah di adu domba satu sama lain supaya saling perang Langsung ceria meski terik panas membara di barter dengan lembar uang ribuan, Lalu lupa kalau nanti mereka bertahta kita akan kembali jadi pesakitan Dan sepulang dari hajatan, Kelaparan kembali mendera Negeri ku memang sudah tua, Jadi maaf saja kalau sering lupa 14 Juni 2009, 2009, pas nih. jaman-jamannya mau pemilu jaman dulu. umur juga belum 17 tahun. belum bisa ikut nyoblos :)  Ms. A,

Suatu Malam dengan Ibu

“Bu aku mau lahir malam ini” “jangan Nak, dunia itu jahat!” “tapi aku mau Bu..” “lalu nanti kita mau makan apa Nak” “memangnya kenapa Bu?” “Bapak baru di PHK..” “PHK? PHK itu apa Bu” “PHK berarti Bapak berhenti bekerja dan jadi pengangguran..” “aku tidak mengerti Bu” “banyak yang tidak kau mengerti Nak” “ajari aku supaya mengerti Bu.. aku mau lahir” “lebih baik kita tidur Nak, sudah larut malam” Esok paginya, Minarsih berniat kembali menjadi buruh cuci, namun ketika ia baru selangkah menginjak lantai kamar mandinya, perutnya amat sakit. Cairan ketubannya meleleh melewati pangkal betis, lalu semua jadi gelap. “innalillahi wa innalilahi ro’jiun.. yang tabah ya No..” ujar Bu Candra menabahi Sutarno. Yang di tinggalkan hanya terdiam menatapi seorang bayi laki-laki dalam gendongan kakak perempuannya, matanya beralih pada kain batik yang menutupi tubuh satu-satunya perempuan yang paling istimewa dalam hidupnya. Andai ia mengikuti saran kakaknya untuk menggugurkan kandungan an...