Skip to main content

Cuma Lupa Kok..

Negeri ku memang sudah tua,
Jadi ingatannya juga terkadang jadi pelupa
Terlebih lagi sekarang ini akan ada pesta,
Yang di stempeli demokrasi katanya
Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya

Langsung senang kalau di suguhi panggung besar dengan penyanyi dangdut bergincu merah,
Lalu lupa kalau di tempat yang sama pernah ada hujan air mata dan banjir darah

Langsung girang walau cuma dapat kaos dengan warna warni terang,
Lalu lupa kalau dulu kita pernah di adu domba satu sama lain supaya saling perang

Langsung ceria meski terik panas membara di barter dengan lembar uang ribuan,
Lalu lupa kalau nanti mereka bertahta kita akan kembali jadi pesakitan

Dan sepulang dari hajatan,
Kelaparan kembali mendera
Negeri ku memang sudah tua,
Jadi maaf saja kalau sering lupa



14 Juni 2009,




2009, pas nih. jaman-jamannya mau pemilu jaman dulu. umur juga belum 17 tahun. belum bisa ikut nyoblos :) 




Ms. A,

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Surat

Semalam, sebelum matahari membelah dirinya sendiri, dan terbenam bukan pada barat atau timur. Ibu menyuruh ku menutup jendela dan mencegah angin musim dingin masuk dan bertamu. Lalu menyakiti ku yang masih ingin berlindung dalam selimut. yang hangatnya tak pernah lebih atau menang atas rasa hangat yang dari hati mu, pada ku. Dan tiba-tiba saja aku ingin menulis sebuah surat untuk kau, yang sedang berkelana nun jauh entah dimana. Aku ingin tau apa kau juga merasakan dinginnya angin malam musim dingin seperti ku saat ini. Apa kau juga sedang berlindung dalam selimut seperti ku saat ini. Dan yang akan selalu aku ingin ketahui, apa kau juga rindu lalu ingin menulis surat untuk ku seperti yang ku rasakan saat ini. Atau malah kau sedang sibuk menjelajahi dunia, dan lupa pada ku. Lupa pada kita?. Kalau sudah begini aku tak bisa lagi menguasai hati ku sendiri, yang sudah sesak dirasuki rasa keingintahuan ku, atas keberadaan diri mu. Juga dengan hati mu. Ku tulis sebuah surat yang k...

Mudik

Esensi lebaran Meski mengular panjang Tradisi menjamu rindu Yang tak bosan bertamu Kakek nenek semakin renta  Keponakan ramai ceria Sepupu-sepupu yang beranjak dewasa Saudara jauh yg tampan dan jelita Aku masih tetap sediakala Sekedar rindu pada teh kental buatan mu, Ms. A, 

Tubuh Ibu

sebuah rujukan untuk Nya : katakanlah aku “jalang..” karna tak bisa ku penuhi hasrat mu atau, sebut aku “kotor..” kalau tak dapat ku daki tebing tertinggi mu karena di balik kemeja mu lah hidup ku, kau jahit meski aku harus robek dan, memang sudah maka ku beri izin kau untuk pereteli jiwa ku dan silahkan telanjangi nurani ku supaya anak-anak ku berhenti menangis tiap kali lihat seragam dan tidak lagi makan nasi aking.. 22 Desember, 2009 Ms. A,