“Bu aku mau lahir malam ini”
“jangan Nak, dunia itu jahat!”
“tapi aku mau Bu..”
“lalu nanti kita mau makan apa Nak”
“memangnya kenapa Bu?”
“Bapak baru di PHK..”
“PHK? PHK itu apa Bu”
“PHK berarti Bapak berhenti bekerja dan jadi pengangguran..”
“aku tidak mengerti Bu”
“banyak yang tidak kau mengerti Nak”
“ajari aku supaya mengerti Bu.. aku mau lahir”
“lebih baik kita tidur Nak, sudah larut malam”
Esok paginya, Minarsih berniat kembali menjadi buruh cuci, namun ketika ia baru selangkah menginjak lantai kamar mandinya, perutnya amat sakit. Cairan ketubannya meleleh melewati pangkal betis, lalu semua jadi gelap.
“innalillahi wa innalilahi ro’jiun.. yang tabah ya No..” ujar Bu Candra menabahi Sutarno. Yang di tinggalkan hanya terdiam menatapi seorang bayi laki-laki dalam gendongan kakak perempuannya, matanya beralih pada kain batik yang menutupi tubuh satu-satunya perempuan yang paling istimewa dalam hidupnya. Andai ia mengikuti saran kakaknya untuk menggugurkan kandungan anak ke delapannya, mungkin tak begini jadinya. Namun Tuhan memang menganugerahi istri yang pengasih. Katanya anak-anak itu adalah anugerah, membuangnya berarti membuang anugerah dari Tuhan.
Ia masih tak percaya atas apa yang baru di tuliskan oleh Tuhan di takdirnya. Mata bayi laki-laki dalam gendongan kakak perempuannya masih terpejam rapat. Seakan tak sanggup ikut melihat apa yang di lihat ayahnya.
“Bu, sekarang aku mulai tau, bagaimana cara dunia berbahasa..”
sabtu, 26 September, 2009
Ms. A,
“jangan Nak, dunia itu jahat!”
“tapi aku mau Bu..”
“lalu nanti kita mau makan apa Nak”
“memangnya kenapa Bu?”
“Bapak baru di PHK..”
“PHK? PHK itu apa Bu”
“PHK berarti Bapak berhenti bekerja dan jadi pengangguran..”
“aku tidak mengerti Bu”
“banyak yang tidak kau mengerti Nak”
“ajari aku supaya mengerti Bu.. aku mau lahir”
“lebih baik kita tidur Nak, sudah larut malam”
Esok paginya, Minarsih berniat kembali menjadi buruh cuci, namun ketika ia baru selangkah menginjak lantai kamar mandinya, perutnya amat sakit. Cairan ketubannya meleleh melewati pangkal betis, lalu semua jadi gelap.
“innalillahi wa innalilahi ro’jiun.. yang tabah ya No..” ujar Bu Candra menabahi Sutarno. Yang di tinggalkan hanya terdiam menatapi seorang bayi laki-laki dalam gendongan kakak perempuannya, matanya beralih pada kain batik yang menutupi tubuh satu-satunya perempuan yang paling istimewa dalam hidupnya. Andai ia mengikuti saran kakaknya untuk menggugurkan kandungan anak ke delapannya, mungkin tak begini jadinya. Namun Tuhan memang menganugerahi istri yang pengasih. Katanya anak-anak itu adalah anugerah, membuangnya berarti membuang anugerah dari Tuhan.
Ia masih tak percaya atas apa yang baru di tuliskan oleh Tuhan di takdirnya. Mata bayi laki-laki dalam gendongan kakak perempuannya masih terpejam rapat. Seakan tak sanggup ikut melihat apa yang di lihat ayahnya.
“Bu, sekarang aku mulai tau, bagaimana cara dunia berbahasa..”
sabtu, 26 September, 2009
Ms. A,
Comments
Post a Comment