Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2012

Ego

Rahwana : Bagaimanakah? Menyederhanakan Sebuah degup Ketika detak-detak Menggedor rasa kebanggaan yang tak mungkin retak Berubah jadi detik-detik Meleleh melewati mata mu yang lentik Kita diam, berlari berusaha mengejar Ia tak pernah kalah Sekedar pura-pura mengalah Seperti ketika di atas meja judi Dan lagi-lagi aku jadi Drupadi Dengan erat masih ku peluk : harga diri Ku tantang, seberapa jauh kah kau mampu berdiri Dengan tombak dan panah mu Dengan gagah dan buas mu Merobek kebanggaan diri Ternyata Kau, Rahwana. Dan kita berbeda cerita Berbeda derita Lantas bukan berarti aku tak tergoda -Drupadi. Ms. A,

kecap

Diam dalam mulut mu  berarti rindu yang dirasa manis gurih jadi harmoni bersimpul rapi pagelaran istimewa dalam katup bibir Duh, saking sukanya saya makan kecap hahahaha

Larangan

Sudah ku bilang hutan ini hanya akan penuh duri, Namun tetap kau sibaki Sudah ribuan mil kaki mu menjejak Ingin rasanya ku patahkan, agar kau terhenti sampai di sini Sudah ku larang kau mengarungi samudera ini Yang kau temui hanya akan membuat mu memerih Sudah berkali sumpah serapah keluar Agar kau menjauhi, menghentikan perjalanan hina ini Lalu aku ingin jadi hujan dan petir Supaya lekas kau pulang dan berteduh di hati yang lain Lalu aku ingin jadi seekor ular padang pasir Kalau-kalau terpaksa kau, ku sakiti Biar rindu itu mati Kemudian ratusan hari kau di sana, Mencari seseorang yang sibuk menyembunyikan diri Ingin sekali aku bertanya : “mengapa kau begitu menyenangi kemarau dengan panasnya?” ditulis sejak senin, 21 februari 2010. Ms. A,