Sandal japitnya terseok lelah membelah panasnya kerikil jalan yang berserak
Kaus merahnya penuh luka tak nampak
Terhirup bau polusi, ilusi dan janji-janji terbentang gagah di jalan raya
Setiap jalan dihiasi barisan lapis baja
Seolah semua harus siap dieksekusi kapan saja
Masih teringat,
Bau tembakau kretek dari kantung kiri kemejanya
Dengan santai, diaduknya kopi hitam dari cangkir nasib
Sambil berujar
"Tidurlah sayang ku, ini belum ada apa-apanya dibanding demonstrasi.."
Sebulan kemudian terdengar kabar
Bapak ku mati
Dibunuh puisi
ditulis untuk Fajar Merah :)
Jakarta, 02 januari 2016
Ms. A,
Kaus merahnya penuh luka tak nampak
Terhirup bau polusi, ilusi dan janji-janji terbentang gagah di jalan raya
Setiap jalan dihiasi barisan lapis baja
Seolah semua harus siap dieksekusi kapan saja
Masih teringat,
Bau tembakau kretek dari kantung kiri kemejanya
Dengan santai, diaduknya kopi hitam dari cangkir nasib
Sambil berujar
"Tidurlah sayang ku, ini belum ada apa-apanya dibanding demonstrasi.."
Sebulan kemudian terdengar kabar
Bapak ku mati
Dibunuh puisi
ditulis untuk Fajar Merah :)
Jakarta, 02 januari 2016
Ms. A,
Comments
Post a Comment