Skip to main content

Bapak

Sandal japitnya terseok lelah membelah panasnya kerikil jalan yang berserak
Kaus merahnya penuh luka tak nampak

Terhirup bau polusi, ilusi dan janji-janji terbentang gagah di jalan raya
Setiap jalan dihiasi barisan lapis baja
Seolah semua harus siap dieksekusi kapan saja

Masih teringat,
Bau tembakau kretek dari kantung kiri kemejanya
Dengan santai, diaduknya kopi hitam dari cangkir nasib
Sambil berujar
"Tidurlah sayang ku, ini belum ada apa-apanya dibanding demonstrasi.."

Sebulan kemudian terdengar kabar
Bapak ku mati
Dibunuh puisi




ditulis untuk Fajar Merah :)

Jakarta, 02 januari 2016

Ms. A,




Comments

Popular posts from this blog

Mudik

Esensi lebaran Meski mengular panjang Tradisi menjamu rindu Yang tak bosan bertamu Kakek nenek semakin renta  Keponakan ramai ceria Sepupu-sepupu yang beranjak dewasa Saudara jauh yg tampan dan jelita Aku masih tetap sediakala Sekedar rindu pada teh kental buatan mu, Ms. A, 

Endorphin

Kamu tau rasanya melayang tapi bukan terbang? Sekilas seperti senyum mu banyak mengambang di udara Tapi tangan terlalu lemah menangkapnya Tiap nafas ku penuh sesak harum kulit mu Euforia kenikmatan Aku ingin tinggal di dalam pikiran mu Membuat film yang isinya kamu menari Melayang-layang di ruang terbuka Kita berdua menangkapi imanjinasi Antara nyata dan khayalan Kamu tau rasanya melayang tapi bukan terbang? Menarik ku ke dimensi lain Menjelajahi mimpi ku sendiri Mendengar mu menyanyikan ku dongeng sebelum tidur Dan menepuk pundak ku agar lelap Membisikan ku puisi-puisi tentang Betapa manisnya teh buatan ku hari ini Bayangkan jika kaki mu menjauh Berlari dari euforia ini Salju meleleh di luar jendela Dingin menusuk tulang dan urat-urat ku Berpendar ke seluruh sel dan jaringan Sepi memenjarakan ku dalam nyeri Tak ada lagi hangat di dekap mimpi Aku tak ingin mendarat ke bumi Kamu, adalah adiksi “love affects our brain like a dr...

Surat

Semalam, sebelum matahari membelah dirinya sendiri, dan terbenam bukan pada barat atau timur. Ibu menyuruh ku menutup jendela dan mencegah angin musim dingin masuk dan bertamu. Lalu menyakiti ku yang masih ingin berlindung dalam selimut. yang hangatnya tak pernah lebih atau menang atas rasa hangat yang dari hati mu, pada ku. Dan tiba-tiba saja aku ingin menulis sebuah surat untuk kau, yang sedang berkelana nun jauh entah dimana. Aku ingin tau apa kau juga merasakan dinginnya angin malam musim dingin seperti ku saat ini. Apa kau juga sedang berlindung dalam selimut seperti ku saat ini. Dan yang akan selalu aku ingin ketahui, apa kau juga rindu lalu ingin menulis surat untuk ku seperti yang ku rasakan saat ini. Atau malah kau sedang sibuk menjelajahi dunia, dan lupa pada ku. Lupa pada kita?. Kalau sudah begini aku tak bisa lagi menguasai hati ku sendiri, yang sudah sesak dirasuki rasa keingintahuan ku, atas keberadaan diri mu. Juga dengan hati mu. Ku tulis sebuah surat yang k...