Skip to main content

Desember


Perempuan tua itu masih memandang jendela yang berembun bekas hujan tadi malam. Dibukanya lebar-lebar pintu jendela kamarnya, hingga angin dingin dengan sembrono masuk ke dalam ruangan, menyakiti kulitnya yang mulai menua. Arah matanya memandang ke arah langit yang muram masih mendung, tapi hujan sudah berhenti sejak subuh tadi. Masih pukul 6 pagi hari itu. Kelopaknya yang keriput mengerjap sesekali, kemudian menetes hujan asin dari sana. Ia menangis dalam diam. Dalam hati ia merapalkan doa-doa yang ditangkap udara pagi dan dibawa kepada Sang Pencipta semesta. Sudah dua jam ia berdiam duduk di depan jendela kamarnya.

Kalender di kamarnya bergoyang, angin masuk membuat bulan-bulan di dalam kalender berdesakan keluar. Berebut mengambil tempat untuk menonton sang empunya kamar yang terdiam di dekat jendela.  Maret, April dan Agustus duduk di atas buku-buku yang masih terbuka  lembarannya, bekas di baca. Januari dan Februari asik memainkan kotak musik tua di dekat meja baca, sedang Mei, Juni dan Juli masih terkantuk-kantuk dan agak kedinginan menanggapi cuaca yang masih mendung. Sisanya menyebar di sekitar cangkir teh hijau.  Yang tak kelihatan hanya Desember, mungkin masih asik bermimpi.

November berteriak-teriak membuat si kembar Juni dan Juli tersentak dari kantuknya yang masih menggelayut berat.

“mana Desember! Mana Desember! Ah selalu begini setiap Desember!” teriak November sambil memukul-mukul sendok teh ke cangkir.

“ssssttttt...! jangan berisik! Mengganggu orang tidur saja!” jawab Januari, bulan yang pertama, yang paling tua dan bijaksana.

“kau ini masih pagi sudah ramai saja Nov, mengganggu kedamaian pagi ini saja.. coba kau lihat cuacanya begitu syahdu, awan-awan kelabu itu tampak saling merindu.. ah hujan, angin dingin..” Sahut Februari yang romantis.

“cih. Masih pagi sudah berpuisi! Ya benar Nov, kita panggil saja si Desember. Ini sudah kesekian ia bangun kesiangan. Mentang-mentang tugasnya sebentar lagi selesai..” ujar Oktober menanggapi dengan ketus.

“ini semua karna Desember! Setiap ia bertugas ada saja kemalangan yang ditimpa perempuan itu. Kasihan dia. Ah benar-benar tega”. Mei menyahut sambil memainkan boneka di pojok meja.

“ya benar. Desember selalu membawa duka untuknya. Ia selalu begini setiap Desember. Sebulan penuh. Setiap hari! Bayangkan saja!” seru April menambahi.

“tapi kan kita tak tau mengapa perempuan ini menangis setiap bulan Desember. Lagi pula sebentar lagi juga Desember selesai, lalu tahun baru, Kak Janu akan memimpin kita bertugas lagi selama setahun seperti biasa”. Jawab Agustus menengahi.

                “biar aku yang bangunkan.. sudah jangan membuat ribut”. Januari masuk lagi ke dalam kalender mencari Desember untuk membangunkannya.

                “bagus itu. Jangan lama-lama!”. Teriak November lantang.

Tak lama, Januari keluar sendirian ia tak menemukan Desember dimana-mana. Bulan-bulan yang lain mulai tergerak membantu mencari kemana perginya. di atas lemari, di kolong tempat tidur, di balik buku-buku, ia tak ditemukan, seisi kamar sudah di tengok. Sampai ketika September menjerit karna melihat sepasang sepatu milik Desember di bawah kursi yang diduduki si pemilik kamar.

                “ini sepatunya! Kemana yang punya?”
Serentak semuanya melihat ke atas. Desember sedang duduk di tepian jendela. Melakukan hal yang sama dengan perempuan itu. Menghadap kosong ke arah langit yang terhampar luas di atas.

                “ssssttttt...!! huss! Huss! Des! Desember! Sini. Ngapain kamu disana? Sini turun! Semuanya sedang mencari kamu”. Bisik Agustus dari bawah kursi yang tampak raksasa jika dibandingkan tubuhnya. Desember menoleh lalu turun ke bawah menghampiri bulan-bulan yang lain.

                “kemana saja? semua mencari mu Des..” tanya Januari.

Bulan-bulan saling berbisik sambil menatap Desember dengan pandangan aneh dan sinis. Desember hanya diam memandangi bulan-bulan yang lain yang sibuk membicarakannya. Desember berjalan pelan-pelan melewati Juni dan Juli yang masih saja mengantuk, lalu duduk di depan pigura foto perempuan tua itu, beberapa tahun yang sudah lalu, ia masih terlihat segar dan muda bersama seorang laki-laki, dan dua anak perempuannya.  Mereka tampak sedang liburan di suatu negara di luar sana, sebab salju sedang turun ketika foto itu diambil dan mereka semua memakai baju dingin yang kelihatan tebal-tebal. Desember mengelus foto wajah laki-laki yang merangkul perempuan itu, dengan raut wajah yang tampak begitu bahagia.

“kemana saja Des? Kami mencari mu sedari tadi...”. sahut November kesal.
“sssstttttt.......” September memberi isyarat untuk diam. Sebab Desember mengeluarkan mimik seperti ingin bercerita.

Bulan-bulan mulai berhenti berbisik-bisik. Mereka serempak mengamati tingkah laku Desember yang sedang aneh pagi itu. Embun menetes satu persatu dari daun tanaman anggrek bulan kesayangan perempuan tua itu. Mereka menunggu Desember bercerita..

“ia tak sedang bersedih kawan-kawan sekalian. Ia tak sedang mengenang luka atau dukanya. Ia mencintai ku sepenuhnya. Ya, aku. Desember. Bulan dimana ia di pertemukan dengan laki-laki ini. Bulan dimana ia dipersatukan di atas janji sehidup semati dengannya. Bulan dimana si kembar lahir kemudian juga mendapat gelar sarjananya di Belanda. Dan mereka malam malam romantis berdua disana. Dan bulan dimana ia merasakan detik-detik paling manis selama hidupnya. Ya aku melihatnya saat itu. Mengintip mereka kemesraan mereka dari kalender di meja rumah sakit. Ia begitu tabah menemani suaminya digerogoti sakit. Tapi bukan duka kawan.. Ia bahagia..” ujar Desember sambil tersenyum menatap November yang kehabisan kata-kata.

“tidakkah kalian lihat? Ia begitu mensyukuri kedatangan ku setiap tahun. Meski kini ia sendiri dan juga hampir mati. Tapi kenangannya tidak. Ia begitu.. begitu amat mencintai ku, kawan-kawan. Tidak kah kalian lihat? Ia tak menangisi deritanya. Ia sedang mengucap syukur atas apa yang Tuhan beri setiap Desember datang. Ia begitu senang mengenang pertemuan-pertemuannya dengan orang-orang yang ia kasihi. Sekaligus menghargai perpisahan-perpisahannya yang telah digariskan Tuhan setiap Desember. Mungkin hanya kebetulan. Tapi ia begitu bahagia kawan. Ia tak sedang bersedih.. dan inilah puncak kebahagiaannya. Ia tau, kawan. Waktu untuk dirinya telah tiba. Dan ia gembira, sebab ini Desember. Meski sudah akhir dan sebentar lagi tahun baru. begitu pula hidupnya. Ia akan menjadi yang baru..”

Bulan-bulan terdiam. Meresapi kata-kata Desember kemudian berlarian menyingkir ketika tangan keriput sang perempuan tua hendak mengambil cangkir teh hijau dari atas meja. mereka memandangi wajahnya lekat-lekat, benar saja. Ia memang sungguh terlihat bahagia. Kemudian diminumnya teh hijau panas dari cangkir putih bercorak bunga-bunga itu. Wajahnya mengembangkan senyum pelan-pelan, seolah alur garis-garis tua di bibirnya itu memberatkan bibirnya untuk sekedar tersenyum. Ia jatuh dari kursi. Bulan-bulan melongo menonton apa yang terjadi kemudian. Cangkir tehnya mendarat mulus di lantai dan pecah jadi dua. Seorang perawat masuk dan segera memanggil orang-orang dari luar kamar yang masuk dan membantunya mengangkat tubuh tua itu.

Desember ikut tersenyum. Senyum yang sama dengan si perempuan tua. Kini ia siap digantikan oleh Januari. Ia telah selesai menggenapi tahun demi tahun dalam hidup perempuan itu. Esok adalah perayaan tahun baru, si kembar yang baru saja akan menghubungi ibunya di Indonesia, mendapat kabar sebaliknya. Desember masuk lebih dahulu ke dalam kalender, diikuti bulan-bulan lain yang masih dengan wajah tak percaya.








terinspirasi dari lagu Desember - Efek Rumah Kaca.

sabtu, 29 desember 2012


Ms. A,

Comments

Popular posts from this blog

Surat

Semalam, sebelum matahari membelah dirinya sendiri, dan terbenam bukan pada barat atau timur. Ibu menyuruh ku menutup jendela dan mencegah angin musim dingin masuk dan bertamu. Lalu menyakiti ku yang masih ingin berlindung dalam selimut. yang hangatnya tak pernah lebih atau menang atas rasa hangat yang dari hati mu, pada ku. Dan tiba-tiba saja aku ingin menulis sebuah surat untuk kau, yang sedang berkelana nun jauh entah dimana. Aku ingin tau apa kau juga merasakan dinginnya angin malam musim dingin seperti ku saat ini. Apa kau juga sedang berlindung dalam selimut seperti ku saat ini. Dan yang akan selalu aku ingin ketahui, apa kau juga rindu lalu ingin menulis surat untuk ku seperti yang ku rasakan saat ini. Atau malah kau sedang sibuk menjelajahi dunia, dan lupa pada ku. Lupa pada kita?. Kalau sudah begini aku tak bisa lagi menguasai hati ku sendiri, yang sudah sesak dirasuki rasa keingintahuan ku, atas keberadaan diri mu. Juga dengan hati mu. Ku tulis sebuah surat yang k...

Mudik

Esensi lebaran Meski mengular panjang Tradisi menjamu rindu Yang tak bosan bertamu Kakek nenek semakin renta  Keponakan ramai ceria Sepupu-sepupu yang beranjak dewasa Saudara jauh yg tampan dan jelita Aku masih tetap sediakala Sekedar rindu pada teh kental buatan mu, Ms. A, 

Tubuh Ibu

sebuah rujukan untuk Nya : katakanlah aku “jalang..” karna tak bisa ku penuhi hasrat mu atau, sebut aku “kotor..” kalau tak dapat ku daki tebing tertinggi mu karena di balik kemeja mu lah hidup ku, kau jahit meski aku harus robek dan, memang sudah maka ku beri izin kau untuk pereteli jiwa ku dan silahkan telanjangi nurani ku supaya anak-anak ku berhenti menangis tiap kali lihat seragam dan tidak lagi makan nasi aking.. 22 Desember, 2009 Ms. A,