Skip to main content

hidup

Saya berdiri di depan loket administrasi kampus, BAAK. di depannya terpampang dengan huruf kapital  ‘FIS’ atau Fakutas Ilmu Sosial. ini loket bagian untuk mahasiswa FIS. Waktu berdesing pusing di hadapan saya.  Cepat sekali seakan tak pernah rela dikejar.

Tiga tahun yang lalu, saya menahan sebuah batu besar dalam dada yang sekarang sudah pecah jadi pasir. Rontok oleh waktu pula. Betapa ia bijak sekaligus bangsat. Di depan loket yang sama di hari pertama datang, saya adu diam di bawah pohon dengan seseorang yang memaksa saya untuk ikut mengantri. Bersaing,  entah apa dengan ratusan manusia lainnya yang berderet mengular.  Saya masih enggan mengantri. Saya tahan air mata yang ingin jatuh menetes, mestinya kala itu saya lebih pantas kembali ke bangku taman kanak-kanak. Dimana ada mama, dan papa yang mengantri mendaftarkan saya sekolah. Saya hanya diam menunggu sambil main perosotan.

Hari berikutnya, di depan loket ini dengan kaki lecet-lecet karna membeli sepatu yang salah. Saya tertatih sendirian, salah naik busway dan hampir batal puasa karna terlalu kesal. Kesal dengan diri sendiri yang begitu manja pada keadaan. Dengan langkah gontai yang tak kalah perih dengan ego saya yang terluka karna tak dapat jurusan dan universitas yang diinginkan.

Sekarang, di depan hanya ada saya, Syifa dan seorang penjaga loket yang tak melakukan apa-apa karna sepi. Syifa menyodorkan dua carik kertas pengajuan surat tanda mahasiswa yang akan jadi prasyarat PPL, yang kabarnya akan dimulai beberapa minggu lagi, menginjak awal bulan puasa nanti. Berarti ini bulan puasa yang ketiga setelah bulan puasa penuh ketidakpuasan itu. Telepon genggam saya bergetar, si pacar menanyakan sedang apa. Mengembalikan saya pada kenyataan sekarang.

Ah waktu, betapa inginnya aku memenjarakan mu. Istirahatlah sebentar jangan suka buru-buru.

Menjadikan saya malu pada diri sendiri. Ayah dan ibu saya senang sekali, sudah mau jadi guru katanya. Dulu mereka juga bilang begini, saya tersenyum kecut. Sekarang, saya cuma bisa tersenyum sambil menyimpan deg-degan dalam dada. apa benar sudah jalannya hidup begini, Pah? apa saya mampu jadi seperti yang kau mau.

Ah waktu, betapa seringnya kau mengkhianati ku.


Ms. A,



Comments

Popular posts from this blog

Surat

Semalam, sebelum matahari membelah dirinya sendiri, dan terbenam bukan pada barat atau timur. Ibu menyuruh ku menutup jendela dan mencegah angin musim dingin masuk dan bertamu. Lalu menyakiti ku yang masih ingin berlindung dalam selimut. yang hangatnya tak pernah lebih atau menang atas rasa hangat yang dari hati mu, pada ku. Dan tiba-tiba saja aku ingin menulis sebuah surat untuk kau, yang sedang berkelana nun jauh entah dimana. Aku ingin tau apa kau juga merasakan dinginnya angin malam musim dingin seperti ku saat ini. Apa kau juga sedang berlindung dalam selimut seperti ku saat ini. Dan yang akan selalu aku ingin ketahui, apa kau juga rindu lalu ingin menulis surat untuk ku seperti yang ku rasakan saat ini. Atau malah kau sedang sibuk menjelajahi dunia, dan lupa pada ku. Lupa pada kita?. Kalau sudah begini aku tak bisa lagi menguasai hati ku sendiri, yang sudah sesak dirasuki rasa keingintahuan ku, atas keberadaan diri mu. Juga dengan hati mu. Ku tulis sebuah surat yang k...

Mudik

Esensi lebaran Meski mengular panjang Tradisi menjamu rindu Yang tak bosan bertamu Kakek nenek semakin renta  Keponakan ramai ceria Sepupu-sepupu yang beranjak dewasa Saudara jauh yg tampan dan jelita Aku masih tetap sediakala Sekedar rindu pada teh kental buatan mu, Ms. A, 

Tubuh Ibu

sebuah rujukan untuk Nya : katakanlah aku “jalang..” karna tak bisa ku penuhi hasrat mu atau, sebut aku “kotor..” kalau tak dapat ku daki tebing tertinggi mu karena di balik kemeja mu lah hidup ku, kau jahit meski aku harus robek dan, memang sudah maka ku beri izin kau untuk pereteli jiwa ku dan silahkan telanjangi nurani ku supaya anak-anak ku berhenti menangis tiap kali lihat seragam dan tidak lagi makan nasi aking.. 22 Desember, 2009 Ms. A,