“kalau tua nanti mama nggak mau ikut ayu ah. Nanti mama diambekin terus. Mama mau tinggal sendirian aja..”
Barusan saya baru saja keluar dari kamar mama. Kami sering
tidur berhadapan di kamarnya. Tertawa, atau saya sekedar menemaninya nonton
televisi sambil membaca. Terkadang berbagi cerita, tentang apa saja. Tak jarang
pembicaraan kami justru berujung pada perdebatan. Apalagi soal keyakinan,
pendidikan, lalu kegemaran. Saya selalu jadi oposisinya dalam hal memandang
orang lain. ibu saya adalah tipe orang tak ingin kalah mesti ia sadar
pendapatnya sudah saya patahkan mentah-mentah. Dan pada akhirnya ia menggunakan
otoritasnya sebagai orang tua yang telah memberikan saya hidup, saya selalu
yang terakhir mengalah sambil tersenyum dalam hati. Mama tak ingin kelihatan
kalah di depan anaknya sendiri. Cerita kegemarannya adalah tentang bagaimana
proses dia melahirkan saya, bagaimana sulitnya menjadi ibu dari anak prematur
yang sering sakit-sakitan, dan pada akhirnya ia menyalahkan saya dan
saudara-saudara kandung saya atas ukuran tubuhnya yang mengembang di saat tua
hahahaha. Katanya ia akan tetap langsing jika saja tak ada kami. Padahal saya
tahu sekali ia begitu mensyukuri memiliki anak-anak seperti kami. Saya sering
melihatnya sholat sampai meneteskan air mata, atau bersujud begitu lamanya, ia
sering mengingatkan saya untuk solat malam di kosan. Ia bilang, tak habis dunia
di kejar, saya musti punya masa depan yang baik pula di akhirat. Saya dirumah
adalah lawannya bertengkar sekaligus tempatnya mengeluh. Sebab selain saya, tak
ada yang senang memeluk pahanya yang sebesar guling :p nan hangat itu sambil
mendengarkan ceritanya tentang pasar di pagi hari, atau pelanggannya yang aneh
di rumah makan miliknya. 2 minggu yang lalu, kami baru saja bertengkar hebat. Kami
saling tak bertegur sapa selama tiga hari penuh. Siapa yang salah? Tentu sayalah
yang paling berdosa sebab tak langsung meminta maaf. Ceritanya waktu itu saya
dan anak-anak kemiri sudah janjian untuk main dan menginap dirumah Syifa di
Bogor. Sebelum berangkat saya sempatkan untuk meminta izin ke rumah. yang saya
temui adalah ia sedang kesakitan di kamar saya, dengan tangan yang dibalut
gips. Tulang lengannya bergeser karna menahan berat tubuhnya ketika jatuh di
kamarnya sendiri, ketika hendak solat malam, ia tak menyalakan lampu kamarnya
sebab takut menggangu tidur ayah saya yang sensitif dengan cahaya, ketika akan
naik lagi ke atas ranjangnya, ia terjatuh karna menghindari dari terinjaknya
kaki ayah saya, ia lengan kananya menahan tubuhnya yang terjatuh. Saya masih
sempat mengobrol dulu sebelum pergi lagi meski berat hati. Mama masih
tertawa-tawa sambil bercanda minta oleh-oleh. Saya juga sudah janji hanya 2
hari, dan 2 hari sisa long weekend lagi akan saya habiskan dirumah menemaninya
yang sedang sakit. Tapi sepulangnya saya dari Bogor ia tiba-tiba saja
marah-marah sambil menyalahkan saya yang pergi saat ia sedang sakit. saya yang
tidak merasa punya salah, mengambil langkah diam saja. seterusnya ia semakin
menyalahkan saya yang katanya malah ngambek. Saya yang merasa aneh dan tidak
punya salah dengan keras kepala pulang ke kosan begitu saja, hanya pamit pada
ayah saya dan bahkan tak meminta uang makan darinya seperti biasa. Tapi saya
luluh juga, saya meminta maaf tiga hari sesudahnya. Meski sering berdebat atau
bertengkar, saya sadar, mama adalah saya dan saya adalah mama. Meski kadang
saya merasa ia lebih sayang pada kakak perempuan saya yang lebih bisa diatur
dan penurut. Kata papa setiap saya sedang berdandan menggunakan cermin di
kamarnya. Saya persis mama waktu muda. Mungkin itu sebabnya semakin mirip kami.
Semakin sering kami berbenturan. Kami sama-sama keras kepala dan emosian. Dan
zaman yang berbeda yang membesarkan kami lah yang membuat pemikirannya tak
pernah cocok dengan saya. Tapi saya sadari, saya adalah ibu saya, mungkin jika
saya menjadi seorang ibu nanti saya justru lebih kolot dari dia. Bagaimanapun
saya pernah jadi seperempat daging dan tulang dalam tubuhnya, menghisap
kehidupan dari air susunya, dan sampai detik ini hidup dari keringatnya. Maaf,
mah. Ayu suka sekali menentang mama, mengatakan kalau mama konservatif dan
sebagainya.
Stay there forever, forever and always
Through the good and the bad and the ugly
We'll grow old together, and always remember
Whether rich or for poor or for better
We'll still love each other, forever and always
Parachute - Forever and Always
Ms. A,
diberkati mamamu di dunia dan akhirat ju, amin :D
ReplyDeleteamiiiin ya Allah amin kak heheheh
ReplyDelete