Skip to main content

Dongeng

Malam ini Bulan bercerita lagi tentang seorang pengembara
Yang tak pernah bisa singgah
Tak boleh memiliki rumah
Tak peduli seberapa banyak nyaman yang ditawarkan 
Ia lebih senang mengasingkan dirinya ke dalam lautan 
Melarung mimpi-mimpinya sendiri ke samudera harapan
Suatu malam, seseorang dari utara mengajaknya menetap
Membangun sebuah rumah kecil tanpa atap
Sang pengembara masih harus melawan dirinya sendiri 
Lalu berlalu, lagi-lagi terpaksa menyakiti
Memberinya bait puisi tanpa isi
Kali ini ia harus lebih tahu diri
Bahwa kapalnya masih harus disauh
Perjalanannya masih jauh
Kesana, ketempat sunyi tanpa ia harus melawan dirinya sendiri


“Konon katanya, sang pengembara memang dituliskan tak boleh bahagia..” gumam Rembulan pada ku, sebelum pagi datang.
image source : https://id.aliexpress.com/item/Hips-dixon20-X35-inch-Hot-Sale-sexy-Surreal-Trees-women-movie-Poster-Custom-ART-PRINT/32485677202.html


Senin, 2 Juni 2018
00:08



Ms. A,

Comments

Popular posts from this blog

Surat

Semalam, sebelum matahari membelah dirinya sendiri, dan terbenam bukan pada barat atau timur. Ibu menyuruh ku menutup jendela dan mencegah angin musim dingin masuk dan bertamu. Lalu menyakiti ku yang masih ingin berlindung dalam selimut. yang hangatnya tak pernah lebih atau menang atas rasa hangat yang dari hati mu, pada ku. Dan tiba-tiba saja aku ingin menulis sebuah surat untuk kau, yang sedang berkelana nun jauh entah dimana. Aku ingin tau apa kau juga merasakan dinginnya angin malam musim dingin seperti ku saat ini. Apa kau juga sedang berlindung dalam selimut seperti ku saat ini. Dan yang akan selalu aku ingin ketahui, apa kau juga rindu lalu ingin menulis surat untuk ku seperti yang ku rasakan saat ini. Atau malah kau sedang sibuk menjelajahi dunia, dan lupa pada ku. Lupa pada kita?. Kalau sudah begini aku tak bisa lagi menguasai hati ku sendiri, yang sudah sesak dirasuki rasa keingintahuan ku, atas keberadaan diri mu. Juga dengan hati mu. Ku tulis sebuah surat yang k...

Mudik

Esensi lebaran Meski mengular panjang Tradisi menjamu rindu Yang tak bosan bertamu Kakek nenek semakin renta  Keponakan ramai ceria Sepupu-sepupu yang beranjak dewasa Saudara jauh yg tampan dan jelita Aku masih tetap sediakala Sekedar rindu pada teh kental buatan mu, Ms. A, 

Tubuh Ibu

sebuah rujukan untuk Nya : katakanlah aku “jalang..” karna tak bisa ku penuhi hasrat mu atau, sebut aku “kotor..” kalau tak dapat ku daki tebing tertinggi mu karena di balik kemeja mu lah hidup ku, kau jahit meski aku harus robek dan, memang sudah maka ku beri izin kau untuk pereteli jiwa ku dan silahkan telanjangi nurani ku supaya anak-anak ku berhenti menangis tiap kali lihat seragam dan tidak lagi makan nasi aking.. 22 Desember, 2009 Ms. A,