Skip to main content

Janji

Jakarta, 1996

Hujan mulai berhenti menetes, meninggalkan genangan-genangan air di jalan-jalan yang permukaannya tak rata. Hari itu tubuh ku bagai habis berlari tiga kali keliling Gelora Bung Karno. Letih sekali rasanya, sebab hari ini di kantor penuh dengan berita-berita politik yang masih ramai diperbincangkan, aktivis-aktivis partai yang menyatakan oposisi pemerintah semakin galak dan berani menggelar demo-demo yang menyentak wajah pemilik rezim. Aku bukan salah satunya, aku hanya seorang wartawan, yang kebetulan bekerja di kantor berita yang konsentrasi pada berita politik dan budaya.
Kaki ku sampai pada sebuah rumah sederhana dengan gaya khas rumah-rumah di Jogja. Pemiliknya memang seorang yang lahir dan menempa pendidikan di sana, seorang lelaki berumur 35 tahun keluar rumah dan membukakan pagar untuk ku.

“pulangnya malem banget sih kamu, sudah makan belum? Tas mu kenapa bisa sampai kucel begitu sih? Hari minggu nanti kita ke Sarinah ya, beli yang baru ah…”. Belum sempat sepatah kata pun keluar, aku hanya tersenyum. Dipa, si tukang cemas, suami yang sebenarnya pendiam, tapi cerewet kalau sudah khawatir tentang apapun.

“maaf ya aku telat lagi, lain kali janji pasti pulang paling telat magrib deh..”. jawab ku sambil melepas sepatu dan kaus kaki ku dan menaruhnya di rak.

“janji tinggal janji.. istri ku ini seperti politisi saja, kerjanya mengumbar janji manis yang ujung-ujungnya diingkari..”. jawab Dipa agak ketus. Aku tertawa terbahak mendengar analoginya, benar juga, lama-lama Mas Dipa serupa rakyat yang sabar menanti realisasi janji para politisi waktu kampanye.

“makan yuk, aku beli sate dan sop kambing, kupanaskan dulu ya sebentar”.
Aku berlari menyusul Mas Dipa sebelum ia sampai ke dapur.

“mas, yang istri ini aku, bukan kamu. Sudah sana duduk saja, biar aku yang panasin makanannya”. Tangan ku menarik kaus oblong Mas Dipa yang penuh bekas cat, menghentikan langkahnya.

Dipa dan aku baru dua tahun menikah. Aktifitas kami memang agak berbeda dari pasangan kebanyakan. Aku lebih banyak bekerja di luar rumah, Dipa menghabiskan waktunya mengolah studio lukisnya dari rumah, sesekali ia juga mengajar di sanggar teater dekat rumah. Dipa dan aku memang serupa yin dan yang, aku kuliah sospol, dan ia mahasiswa seni rupa. Tapi sejauh ini kami masih bisa saling melengkapi, dan itulah yang paling aku syukuri dari kehidupan kami. Ia tak pernah mengeluh atau menuntut istrinya menjadi ibu rumah tangga, dan membiarkan ku berlarian meliput peristiwa-peristiwa yang kadang membuatnya cemas. Tapi ia tak pernah mengekang apa yang aku ingin lakukan. Hanya satu pintanya, hari minggu adalah hari keluarga, entah menghabiskan waktu berdua saja seperti saat pacaran, atau berkunjung ke rumah mertua ku yang tak jauh dari rumah kami, pokoknya hari minggu adalah hari keluarga yang tak bisa diganggu gugat. Bukan tak ingin, menjadi seperti istri kebanyakan, ku rasa Dipa lebih tau, bahwa pekerjaan apapun yang dilakukan dengan hasrat, dan kesenangan dari hati, lebih bermanfaat dan berguna untuk orang banyak selain untuk diri ku sendiri.

Selesai makan Dipa kembali ke ruang melukisnya di lantai 2, dan aku membereskan meja makan lalu membuat sepoci teh melati kiriman ibu ku dari Pekalongan. Rutinitas kami sehabis makan malam, menemani Dipa merokok di ruang melukisnya.

“lukisan mu sudah selesai mas?” tanya ku sambil memperhatikan Dipa menyeruput teh panasnya.

“oh ya ya sini kamu lihat ini, aku buat sesuatu untuk pameran ku insya Allah tahun depan deh.”
Aku mengikuti Dipa ke tempat kanvas-kanvasnya di pajang rapih. Dengan satu kanvas yang masih ditutupi kain hitam.

“bagus nggak?” teriak Dipa sambil membuka kain penutup kanvas.
Sebuah lukisan perempuan berambut sebahu dengan gaun biru muda bertelanjang kaki.

“aku?” jawab ku terperangah, menikmati alur cat minyak yang berantakan menjadi satu kesatuan warna yang apik di mata.

Dipa mengangguk. Ku peluk tubuh Dipa dengan erat. Ku cium kening dan kedua sisi pipinya. Rambut-rambut kasar di pipinya membuat ku sadar, ini kenyataan. Suami ku yang manis. Letih ku seharian lenyap begitu saja.

“oh. Seniman kesayangan aku nih. Aku juga punya hadiah besar untuk mu, tapi nanti ya hari minggu depan pas ulang tahun tahun kamu”. Jawab ku sambil tersenyum, dada ku sesak bahagia. Terlalu sering mengurus hal serius di kantor membuat ku menjadi perasa dengan hal kecil yang manis seperti ini.

Malam itu kami habiskan dengan kasih sayang.

******


27 Juli 1996
07.30 WIB

Telepon dirumah berdering terus membangunkan ku. Aku tersentak melihat jam dinding, ternyata aku kesiangan. Ku lihat pager ku bergetar terus. Pesan dari pak Gandi terus bermunculan, memaksa ku buru-buru beranjak dari tempat tidur. Selesai mandi ku lihat Dipa masih pulas, ku kecup keningnya cepat, sambil berlarian ke ruang tengah mencari sepatu.

“kemana aja sih Prim? Kamu nggak lihat itu menteng sampai salemba sudah merah semua! Ayo cepet berangkat tinggal kita yang masih dikantor, saya nunggu kamu tau dari jam setengah 7” ketus Handoko rekan kerja satu divisi ku, bagian berita politik, sambil merapikan bahan-bahan liputan kemarin.

“maaf han, aku kesiangan, kemarin habis membantu Rahma mengumpulkan berkas soal SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi), buat edisi khusus bulan depan Han, maaf ya maaf” jawab ku menyesal.

“yaudah gapapa ayok cepet, nanti kita nggak kebagian apa-apa, mas Reksa dan Bayu sudah standby disana sejak tadi malam, naik motor aja ya”.

Setibanya dilokasi, yang kulihat dimana-dimana adalah asap, suara teriakan, kaca dan bangunan yang dirusak, dan masa yang baku hantam saling melempar batu dengan dengan pihak ABRI dan kepolisian. Manusia menyerang manusia lainnya. Sekumpulan massa berkaus merah didorong mundur oleh barisan ABRI dan polisi.

Tak jauh dari tempat aku berdiri,  seorang polisi terlihat memukul demonstran berkaus merah dengan pentungannya, tertubi-tubi, dan dua orang lain yang mencoba membantu kawannya, di seret masuk kedalam truk. Aku memegang kamera analog ku, dan bersiap mengabadikan momen yang membuat adrenalin ku naik seketika.

Selang satu dua jepretan ku ambil, tiba-tiba benda keras memukul kepala ku dari belakang, aku terjatuh ke aspal. Pening sekali rasanya. Beberapa pria berbaju loreng dengan penutup kepala menyerang ku membabi buta. Mata dan dagu ku dihantam pukulan tangan pria dewasa, hingga wajah ku lebam. Mata ku tak lagi jelas melihat sekeliling. Kamera sudah tak lagi di tangan. Entah hilang kemana. Tas ransel ku ditarik paksa hingga putus. Ku cecap asin darah dari bibir ku sendiri yang berdenyut perih. Lalu yang ku tau aku berada di dalam sebuah mobil truk besar, dari suara mesin yang ku dengar.

******


“di tasnya ada banyak dokumen soal SMID dan SBSI. Dia orang partai?.” Tanya suara laki-laki tua menggema di sebuah ruangan, yang perkiraan ku tak begitu besar. Sepertinya hari sudah berganti. Entah kepala ku ditutup kain hitam, rasanya seperti mati lampu dimana-mana.

“wartawan pak! Saya lihat dia pegang kamera,tadi tak ada kartu persnya”. Jawab suara lainnya. Sepertinya kami hanya bertiga disini. Aku, si lelaki tua, dan anak buah militernya.

“kalau tak ada kartu persnya bisa jadi dia orang partai, dokumennya lengkap?”
“lumayan banyak pak.” Jawab anak buahnya lugas.

                Seketika aku ingat dokumen-dokumen yang ku dapat dari Mas Mochtar, saat membantu Rahma mengumpulkan bahan untuk menulis artikel dan liputan kemarin malam, yang kebetulan masih ada didalam tas ku dan terbawa karena kesiangan. Ah sial. Aku ingin mengkonfirmasi dimana kantor berita tempat ku bekerja, tapi mulut ku di lakban. Tangan ku diikat ke belakang kursi. Dan aku tak dapat melihat siapa yang bicara. Ku paksa tubuh ku yang nyeri untuk bergerak memberi respon. Tapi yang ku dapat lagi-lagi hanya pukulan. Bertubi-tubi. Sakitnya terasa hingga ke dada ku. Benci seketika mengisi seluruh rongga dada ku. Aku ingin terisak tapi tak ada suara yang keluar dari bibir ku.

Ku dengar si lelaki tua, menerima telfon dari atasannya. Tentang para petinggi partai oposisi yang di tuduh mendalangi kerusuhan, sudah tertangkap semua.

“jaga dia, habisi saja kalau bisa, ikan besar sudah diamankan semua. Perempuan ini bukan apa-apa buat kita”. Suara si lelaki tua menghilang. Dan ku dengar sebuah kursi lainnya diseret mendekati ku. Ku dengar lagi suara tawa kecil dari mulut anak buah si lelaki tua. Lalu ku rasakan gunting merobek kemeja ku, dingin terasa menusuk luka lebam di bahu ku.

Tangannya merogoh penutup kepala ku, melepas lakban dibibir ku dengan kasar, tapi tetap membiarkan penutupnya. Aku refleks mengigit jarinya ketika lakban dibuka.

“perempuan sialan!!”. Teriaknya kesakitan.

Rasanya agak lega. Harusnya ku koyak saja hingga jarinya lepas. Satu pukulan lagi kuterima sebagai hadiah. Kepala ku semakin pening. Tiba-tiba tangan kasar itu merobek seluruh pakaiyan ku dengan gunting, hingga aku rasa tinggal pakaiyan dalam ku saja. Sebuah jemari kasar menggerayangi dada ku dengan paksa.

“mendesahlah, atau ku potong lidah mu untuk makanan anjing dirumah”. Suaranya begitu dekat, ia menekan pipi ku dengan tangannya sekencang mungkin.

“kalian anjing!!!”. Begitu dilepas. Aku refleks berteriak marah. Tersadar kalau ia sedang melecehkan aku. Rasanya lebih baik aku dipukuli lagi saja, daripada direndahkan seperti ini.

Benar saja, tak lama setelah itu sebuah benda padat dan keras menghantam kepala ku berkali-kali, kali ini kencang sekali, lebih sakit dari pukulan-pukulan sebelumnya, tapi aku sudah mati rasa. Aku bisa merasakan rahang dan tulang tengkorak ku retak. Lalu pandangan ku memudar, tak lagi gelap mati lampu. Tapi justru memutih terang sekali, hingga mata ku silau. Air mata ku berjatuhan. Ku bayangkan wajah Dipa, yang khawatir menunggu ku pulang kerumah, si pencemas ku yang paling ku sayangi. Lalu memori ketika kami mengadakan akad nikah sederhana di Jogjakarta terbesit samar-samar.

******

Aku terbangun di rumah mertua ku, nampaknya hari itu hari minggu. Sebab ibu memasak banyak sekali hari itu. Aku mencium bau gurih aneka masakan rumahan. Baru kusadari aku memakai gaun biru muda, seperti dalam lukisan Dipa. Dipa menghampiri ku, hari itu ia terlihat lebih tampan dari biasanya. Lelaki ku yang penyayang dan perasa.  Rasa aku lebih bahagia dari biasanya.

“bantu ibu sana, kamu cuma masak waktu jaman kita pacaran saja, supaya aku terayu dan menikahi mu kan? Huh nakal..”. bisik Dipa sambil mengelus perut ku yang membesar.

Tunggu dulu, perut ku membesar? Ah iya.. aku ingat beberapa hari yang lalu ku temukan diri ku positif hamil, tapi belum sempat ku katakan pada Dipa, karena ingin memastikan lagi ke dokter, agar akurat, lalu ku rencanakan memberitahu Dipa sebagai hadiah ulang tahunnya.

Kupeluk Dipa erat-erat. Bau tembakau menyeruak dari rambut dan lehernya. Bercampur aroma tubuh alaminya, dan cat minyak. Baunya sungguh lucu, tapi aku suka. Aku selalu suka segalanya tentang suami ku. Semua orang diruangan itu tertawa melihat ku yang berusaha memeluk Dipa dengan perut yang kebesaran. Mata ku menggelap tertutup bahunya. Lalu kudengar lagi suara menjengkelkan itu.

bereskan dia, sudah tak bernafas nampaknya…



Sementara teduhlah hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara ingat lagi mimpi
Juga janji janji
Jangan kau ingkari lagi

Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui

Jangan henti disini

Sementara - Float



- Tamat


Ms. A,
Sabtu, 18 Agustus 2018


terinspirasi dari buku Laut Bercerita – Leila S. Chudori. Mohon maaf bila masih banyak rekaan sejarah yang salah, sebab hanya berbekal membaca beberapa artikel dari internet.
Sedikit bahan pustaka tulisan :

tulisan ini saya tulis untuk seseorang yang harum tubuhnya begitu lucu, dan rambut keritingnya yang bisa-bisanya dipotong sendiri, biar kelihatan lebih muda katanya.



















Comments

Popular posts from this blog

Surat

Semalam, sebelum matahari membelah dirinya sendiri, dan terbenam bukan pada barat atau timur. Ibu menyuruh ku menutup jendela dan mencegah angin musim dingin masuk dan bertamu. Lalu menyakiti ku yang masih ingin berlindung dalam selimut. yang hangatnya tak pernah lebih atau menang atas rasa hangat yang dari hati mu, pada ku. Dan tiba-tiba saja aku ingin menulis sebuah surat untuk kau, yang sedang berkelana nun jauh entah dimana. Aku ingin tau apa kau juga merasakan dinginnya angin malam musim dingin seperti ku saat ini. Apa kau juga sedang berlindung dalam selimut seperti ku saat ini. Dan yang akan selalu aku ingin ketahui, apa kau juga rindu lalu ingin menulis surat untuk ku seperti yang ku rasakan saat ini. Atau malah kau sedang sibuk menjelajahi dunia, dan lupa pada ku. Lupa pada kita?. Kalau sudah begini aku tak bisa lagi menguasai hati ku sendiri, yang sudah sesak dirasuki rasa keingintahuan ku, atas keberadaan diri mu. Juga dengan hati mu. Ku tulis sebuah surat yang k...

Mudik

Esensi lebaran Meski mengular panjang Tradisi menjamu rindu Yang tak bosan bertamu Kakek nenek semakin renta  Keponakan ramai ceria Sepupu-sepupu yang beranjak dewasa Saudara jauh yg tampan dan jelita Aku masih tetap sediakala Sekedar rindu pada teh kental buatan mu, Ms. A, 

Tubuh Ibu

sebuah rujukan untuk Nya : katakanlah aku “jalang..” karna tak bisa ku penuhi hasrat mu atau, sebut aku “kotor..” kalau tak dapat ku daki tebing tertinggi mu karena di balik kemeja mu lah hidup ku, kau jahit meski aku harus robek dan, memang sudah maka ku beri izin kau untuk pereteli jiwa ku dan silahkan telanjangi nurani ku supaya anak-anak ku berhenti menangis tiap kali lihat seragam dan tidak lagi makan nasi aking.. 22 Desember, 2009 Ms. A,