Senayan 2012,
Seorang barista sedang
membersihkan alat pembuat buih susu di mesin kopi, berdesis mengeluarkan asap
tipis, harum manis susu menguar memenuhi seisi kedai kopi yang tidak terlalu
besar. Kasir di sebelahnya sedang sibuk menghitung sisa kupon minuman
gratis.
Hari ituJakarta, begitu
terik, dan silau. Barangkali sore nanti akan turun hujan. Begitu dalam pikiran
orang-orang di jalanan di depan kedai. Seluruh isi kedai kopi terlihat dari
luar, hanya dibatasi kaca-kaca besar. Ada lima pasang meja dan kursi, hanya dua
yang terisi. Dua pasang meja dan kursi yang berhadapan. Seorang laki-laki
dengan caffelatte yang masih belum disentuh sejak tadi. Hampir dingin, menunggu
si empunya selesai mengetik laporan berita-berita yang ia liput kemarin. Bangku
di depannya yang kosong diisi tas ransel dan beberapa majalah film terbitan kantornya.
Dua paragraf lagi, dan ya.
Selesai. Bimo menghela nafasnya panjang dan lega, menandai beritanya yang
terakhir selesai dan langsung dikirim ke editor hari ini. Bimo menangkup
tangannya ke wajah lalu merapikan rambutnya yang ternyata, ia acak-acak sewaktu
menulis. Bimo membunyikan buku-buku jemarinya, sambil mereganggkan punggungnya
yang pegal duduk, selama satu jam setengah tanpa memerhatikan sekitar.
Aku memperhatikan Bimo dengan
seksama, hampir setiap hari selasa atau kamis ia duduk di bangku yang sama setiap
minggunya. Ku berani kan diri mendekati mejanya. Ku pasang ekspresi wajah ku
yang paling anggun. Sambil memutar mutar kuku jemari, aku tersenyum. Selang dua
batang rokoknya di bakar habis, sambil menyesap caffelattenya yang sudah dingin, tapi masih enak. Ku beranikan diri
mendekat, karena ia tiba-tiba saja merapikan barang-barang disekitarnya.
Memasukannya kedalam ransel. Tak ingin berakhir sia-sia seperti yang
sudah-sudah. Ku tahan ego dan malu dalam hati. Aku mendekat. Bimo tersenyum
manis. Aku yakin seribu persen ia masih ingat pada ku.
Ah benar saja, Bimo memesan susu
dingin pada barista dan meletakannya di meja. Ia tau apa yang paling aku
butuhkan saat ini. Bimo tersenyum menatap ku, binar matanya masih sama. Masih
mata menggoda, yang hangat tapi misterius.
Ku ucap terimakasih dengan suara
yang dibuat-buat semanis mungkin. Bimo tertawa. Aku ingin memeluknya sesegera
mungkin. Tapi ini tempat umum. Ia tak banyak berubah, hanya kulitnya sedikit
menggelap, dan rambutnya sudah tak gondrong lagi seperti dulu. Rautnya semakin
dewasa, mungkin karena akhirnya ia bukan lagi mahasiswa. Dan sekarang ia pakai
kacamata.
Apa guna rasa, kalau bercinta bisa hanya lewat tatap,
Teratai dan kupu-kupu di antara kelopak mata mu
Bimo mempersilahkan ku masuk
kedalam mobilnya yang diparkir tak jauh dari kedai kopi. Tak lagi ku pedulikan
tatapan aneh disekitar. Aku hanya menurut saja. Bukanlah rasa penasaran akan
cinta selalu menarik mu untuk tak sengaja jadi patuh?
Kami tiba di rumah. Bimo menarik
ku masuk. Mengusap kepala ku lembut, sambil membantu ku mengeringkan tubuh
sehabis mandi. Tangannya masih kasar, tapi hangat. Bimo menatap kedua mata ku
lekat-lekat.
“mata mu lucu ih, jernih, tapi kesepian hehe.” Tangannya menangkup wajah ku.
“mata mu lucu ih, jernih, tapi kesepian hehe.” Tangannya menangkup wajah ku.
Aku hanya tertawa. Sambil menikmati
hangatnya udara pengeringrambut yang Bimo nyalakan untuk ku.
“sekarang kamu jadi punya ku ya. Jangan khawatir, tiap aku kasih makanan yang enak-enak buat kamu. Jangan nakal ya..”
“sekarang kamu jadi punya ku ya. Jangan khawatir, tiap aku kasih makanan yang enak-enak buat kamu. Jangan nakal ya..”
Lalu terdengar suara bel dari pintu depan. Bimo keluar meninggalkan ku yang masih duduk nyaman di depan televisi. Jam dinding menunjukan pukul 7 malam. Bimo membuka pintu rumahnya, seorang wanita cantik berumur 30-an mengenakan gaun biru muda selutut dan sepatu hak tinggi masuk dan menaruh tasnya di atas meja makan. Mengeluarkan barang-barang dari tas kertas yang ia bawa.
“Bim. Aku bawa biji kopi oleh-oleh dari Jepang.”
“Bim meja makan kamu kok berantakan sih.”
“Bim aku seduhin ya kopinya. Grinder kamu mana sini. ada susu nggak di kulkas?”
Wanita itu sibuk dengan ocehannya
sendiri sambil menata bagian dapur rumah Bimo, yang sudah ku jelajahi seluruh
sudutnya. Kesukaan ku adalah jendela di dekat meja makan. Bimo pasti
membukanya, membiarkan asap rokoknya pergi. Ia punya kebiasaan tak sehat yang
sebenarnya tak pernah ku suka. Merokok sehabis makan.
Aku mengendap-endap meninggalkan
wanita itu sendirian, dan menemukan Bimo sedang bicara serius dengan telepon
genggamnya. Di sebrang sana, suara perempuan tua membalas sambil batuk-batuk.
“Ma. Siapa yang suruh Dina kesini? Mama? Kan aku bilang gausah. Kita nggak cocok ma. Dan umur ku nyaris 35! Aku nggak butuh di jodoh-jodohin. Sama siapapun!“ nada suara Bimo meninggi diakhir kalimat. Tapi kemudian raut wajahnya mengendur dan suaranya berubah drastis.
“kambuh mah? Kok ga bilang aku? Fira juga ga bilang nih. Yaudah mama istirahat ya. Sorry sorry ya ma. Aku nggak maksud. Iya. Iya. Oke mah. Iya nanti aku anter Dina pulang. Sleep well mah. Besok aku kerumah.”
“Ma. Siapa yang suruh Dina kesini? Mama? Kan aku bilang gausah. Kita nggak cocok ma. Dan umur ku nyaris 35! Aku nggak butuh di jodoh-jodohin. Sama siapapun!“ nada suara Bimo meninggi diakhir kalimat. Tapi kemudian raut wajahnya mengendur dan suaranya berubah drastis.
“kambuh mah? Kok ga bilang aku? Fira juga ga bilang nih. Yaudah mama istirahat ya. Sorry sorry ya ma. Aku nggak maksud. Iya. Iya. Oke mah. Iya nanti aku anter Dina pulang. Sleep well mah. Besok aku kerumah.”
Bimo menutup teleponnya. Lalu duduk
pasrah di tempat tidur. Ia menoleh dan tersenyum kecil saat melihat ku di depan
pintu kamarnya. Aku menghampiri Bimo. Menempelkan pipi ku pada wajahnya. Bimo menghirup
bau ku yang harum shampoo sehabis mandi tadi. Lalu mengecup dahi ku lembut.
“kamu cantik banget sih hahahaha. “ sahut Bimo sambil tertawa. Dan perut ku merinding dibuatnya. Ku rasa pipi ku sekarang warnanya berubah jadi merah muda. Bimo menggenggam tangan ku dan memijatnya lembut.
“kamu cantik banget sih hahahaha. “ sahut Bimo sambil tertawa. Dan perut ku merinding dibuatnya. Ku rasa pipi ku sekarang warnanya berubah jadi merah muda. Bimo menggenggam tangan ku dan memijatnya lembut.
Aku mengikuti Bimo dari belakang
saat ia keluar menghampiri perempuan itu. Bisa ku lihat jelas langkahnya yang
enggan beranjak. Dan raut wajahnya yang dibuat seolah-olah ramah. Sudah satu
jam lamanya mereka berbincang. Aku hanya memperhatikan dari sofa di ruang
televisi tak jauh dari meja makan. Tawa perempuan itu membuat aku merasa
seperti anak lima tahun yang es krim pertamanya tak sengaja jatuh ke
rumput di taman. Menyebalkan!
Tak kusangka, wanita ini kemudian
menyadari ada aku yang memperhatikan gerak-geriknya. Ia menghampiri ku.
“Bim. Ini punya kamu? Lucu banget sih cantik banget deh.”
“baru ketemu tadi siang, Din.”
“siapa namanya?”
“hmmm Kirana...”
“Bim. Ini punya kamu? Lucu banget sih cantik banget deh.”
“baru ketemu tadi siang, Din.”
“siapa namanya?”
“hmmm Kirana...”
Mata ku
perih mendengar namaku disebut. Barangkali ia masih ingat. Barangkali ini hanya
pikiran ku saja.
Cikini, 2006
Kirana menahan degup jantungnya
yang berdetak tak karuan. Mendengar riuhnya gema tepuk tangan hingga ke ruas
rias di belakang panggung. Ia membetulkan kain selendangnya lalu berjalan ke
arah sayap panggung, bersiap menunggu gilirannya tampil. Kirana menarik nafas
panjang lalu mengeluarkannya pelan-pelan, sembari menutup matanya dengan sebuah
kain merah, lalu berjalan memasuki panggung dan memulai tariannya.
Seorang pemain perempuan
berpakaian serba putih, meneriakkan dialognya lantang. Hanya ada Kirana,
seorang perempuan yang bermonolog sendirian, dan seorang laki-laki paruh baya
yang memainkan biolanya, kadang menyayat hati, kadang mengebu-gebu, Kirana
meliukan tubuhnya mengikuti alunan suara biola, berkejaran dengan sorotan lampu
panggung.
Empat jam kemudian,
“enak?” tanya seorang pemuda asing dengan tas ransel dan kemeja kotak-kotak biru.
Kirana merengut aneh, tapi tetap mengangguk.
“satu lagi pak, sama tapi telurnya didadar ya” teriak si pemuda lantang kepada penjual nasi goreng tak jauh dari tempat kirana duduk, di pelataran Taman Ismail Marzuki.
“boleh duduk disini?” sahut si pemuda, lagi-lagi Kirana tak menjawab, hanya menggeser duduknya, lalu mengangguk pelan, masih sibuk mengunyah mengabaikan si pemuda.
“Bimo, kamu siapa?” ujarnya sambil tersenyum, mengulurkan tangan kanannya pada Kirana. Yang ditanya masih diam dengan tatapan merasa terganggu.
“siapa sih? Ganggu orang lagi makan aja”. Jawab Kirana ketus.
“tadi kan saya ngenalin nama saya, Bimo. Hehe. Kamu siapa?” Bimo tersenyum, lesung pipinya muncul seketika.
“Kirana. Kamu nggak lihat saya lagi makan?” Kirana menyuap lagi dan membuang pandangannya dari Bimo.
“galak banget Kirana. Lagi laper yah? Hehe. Laper lah habis mentas satu jam full nari gitu ya. Saya abis nonton kamu lho. Bagus. Kamu nggak kelihatan kaya lagi pakai penutup mata, koordinasi badan sama iramanya sejalan.” Bimo merapihkan anak rambut yang terurai dari rambut panjangnya yang diikat asal-asalan.
“oh iya terimakasih ya..” senyum Kirana mengembang mengingat pementasannya tadi.
“kamu anak seni tari?”
“iya semester 4.”jawab Kirana sekenanya.
“saya di film, semester 7 mau 8, mungkin akan 9, 10, 11. Betah sih.”
Kirana berhenti mengunyah. Hening pecah jadi tawa diantara keduanya. Pupil mata Bimo membesar melihat senyum gadis di depannya.
“enak?” tanya seorang pemuda asing dengan tas ransel dan kemeja kotak-kotak biru.
Kirana merengut aneh, tapi tetap mengangguk.
“satu lagi pak, sama tapi telurnya didadar ya” teriak si pemuda lantang kepada penjual nasi goreng tak jauh dari tempat kirana duduk, di pelataran Taman Ismail Marzuki.
“boleh duduk disini?” sahut si pemuda, lagi-lagi Kirana tak menjawab, hanya menggeser duduknya, lalu mengangguk pelan, masih sibuk mengunyah mengabaikan si pemuda.
“Bimo, kamu siapa?” ujarnya sambil tersenyum, mengulurkan tangan kanannya pada Kirana. Yang ditanya masih diam dengan tatapan merasa terganggu.
“siapa sih? Ganggu orang lagi makan aja”. Jawab Kirana ketus.
“tadi kan saya ngenalin nama saya, Bimo. Hehe. Kamu siapa?” Bimo tersenyum, lesung pipinya muncul seketika.
“Kirana. Kamu nggak lihat saya lagi makan?” Kirana menyuap lagi dan membuang pandangannya dari Bimo.
“galak banget Kirana. Lagi laper yah? Hehe. Laper lah habis mentas satu jam full nari gitu ya. Saya abis nonton kamu lho. Bagus. Kamu nggak kelihatan kaya lagi pakai penutup mata, koordinasi badan sama iramanya sejalan.” Bimo merapihkan anak rambut yang terurai dari rambut panjangnya yang diikat asal-asalan.
“oh iya terimakasih ya..” senyum Kirana mengembang mengingat pementasannya tadi.
“kamu anak seni tari?”
“iya semester 4.”jawab Kirana sekenanya.
“saya di film, semester 7 mau 8, mungkin akan 9, 10, 11. Betah sih.”
Kirana berhenti mengunyah. Hening pecah jadi tawa diantara keduanya. Pupil mata Bimo membesar melihat senyum gadis di depannya.
Menteng 2010,
Bimo berlari menembus trotoar jalan yang panas. Peluh membasahi keningnya. Matanya menahan isak yang tak
rela ia tumpahkan di depan umum. Orang-orang yang terbentur tubuhnya menoleh,
menggerutu, ada pula yang membentak kasar. jantungnya menahan denyut yang
begitu cepat seakan mau meledak. Nafasnya sesak. Ia membayangkan wajah
seseorang menahan kesakitan sendirian.
bruk!
Ibunya langsung lari berhambur dari
lorong rumah sakit. Memeluk Bimo erat-erat. Dadanya sakit bukan karena
terbentur pelukan tiba-tiba itu. Otot kakinya melemas.
“anak mu Bim.”
"ya Allah.."
“Kirana gimana bu?”
“maaf pak. ibu Kirana pergi, setengah sejam setelahnya”. seorang berpakaian dokter menyahut dari depan ruang bersalin.
“relain ya.. kamu kuat Bim kuat”
“anak mu Bim.”
"ya Allah.."
“Kirana gimana bu?”
“maaf pak. ibu Kirana pergi, setengah sejam setelahnya”. seorang berpakaian dokter menyahut dari depan ruang bersalin.
“relain ya.. kamu kuat Bim kuat”
And now my memory
Seems to be failing me
What once was fantasy
Is all I've ever known
The thing I miss the most
Lives in some demon host
I know you're not a ghost
Just down the street
I am a spinning man
A living ceiling fan
If two could only hang
In the same room once again
BAHAMAS – All I've Ever Known
“di kehidupan yang kedua ini mengajarkan aku bagaimana caranya mencintai tanpa harus kehilangan, dan sayangnya masih ada sisa tujuh nyawa ku lagi dan entah apalagi yang akan ku pelajari”
Jarum jam dinding terantuk-antuk menunjukan pukul dua dini
hari. Bimo menyeret langkahnya keluar kamar, lampu di ruang tv sudah mati, meninggalkan
pendar cahaya dari televisi yang masih menyala, dengan tayangan talkshow yang
membosankan. Seperti tak percaya, Bimo melihat mendiang istrinya tertidur pulas
diatas sofa. Memakai gaun ungu muda kesukaannya. Rambut panjangnya terurai nyaris menyentuh lantai. Wajahnya lelah,
dengan ritme nafas yang sungguh damai. Bimo
menghampiri sofa dan mempertegas pandangannya. Parfum vanilla bercampur sabun khas
tubuh Kirana samar tercium. Memenuhi ruang dadanya yang sesak.
Sekali lagi, Bimo menyadarkan dirinya sendiri. Oh hanya
halusinasi. Bimo tersadar itu bukan
tubuh istrinya. Hujan pecah dari perasaan rindunya yang tak lagi terbendung dan
menetes jatuh, membangunkan Kirana . Kirana menjilati tangannya sendiri. Menggeliat melihat suaminya diam memaku. Kirana mengeong lembut. Lambat laun kembali tertidur di depan sofa. sambil berdoa dalam hati agar
Tuhan membiarkan ia terus bereinkarnasi dalam bentuk ini saja. Selamanya.
“meeeeoow.....”
Jakarta, 14 april 2018
17:20
Ms. A
Comments
Post a Comment