Masih lima belas menit lagi, jam pulang kantor
Aku berlari kencang dari ruangan sewaktu dengar berita
Di televisi
bapak ku mengubur kakinya dalam semen-semen diam - beku dan menyakitkan
Ibu ku menjahit mulutnya, bungkam - dengan luka bubut di kakinya yang masih basah
Desing traktor pembangunan berlari melewati gedung-gedung marmer bertahta emas, menerobos lampu-lampu lalu lintas yang tak guna,
sebab jalan penuh dengan ketidakpuasan,
bising suara besi-besi marah,
pagi ingin cepat cari uang,
malam ingin cepat pulang
Ini kaki,
lelah berlari
ibu dan bapak,
menanam padi dan kopi
tapi tak tau seperti apa rasanya
Aku mengejar senja yang berarak
Terlewati juga gang-gang sempit
Rumah-rumah bordil
Investasi bisnis lendir
Tembok kokoh yang dipagari deretan manusia baja
Raja-raja kecil
Bicara soal tender, investasi, dan negosiasi atas nama orang-orang kere
Tawanya nyaring dibawa angin sore
Lagi, ku ingat janji bapak ibu bangun sebelum fajar
Supaya aku termasuk dalam kaum terpelajar
Kaki bapak disemen
Mulut ibu dijahit
Menuntut keadilan
Barangkali asas kekeluargaan,
Tapi keluarga tak akan menyiapkan seribu pasukan benteng baja!
Yang siap memusnahkan bapak dan ibu ku
Yang kios-kiosnya hancur diterjang
Rumah-rumahnya habis diremuk
Gerobak-gerobaknya diangkut paksa
Lahan taninya habis dimakan lintah darat
Beribu-ribu bapak ku, ratusan juta ibu ku, mati dirumahnya sendiri
Persis di depan mata
Tempat anak-anaknya, duduk di depan komputer
Keblinger,
Menghitung untung korporasi
Menjaga konsumsi dan daya beli
Pasal 33 ayat 1 uud 1945
"Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan."
*barangkali beberapa orang mencap saya munafik dan naif, mengkritik sistem padahal saya berada di dalam salah satu sistem itu sendiri.. paling tidak ini cara saya supaya tetap sadar, berusaha waras dan mawas diri, karena barangkali kita nggak pernah tahu, hari ini kita mengkritik, esoknya kita yg jadi bahan kritik
Jakarta, 20 maret 2017
Ms. A,
top
ReplyDeleteCoffee?
Delete