Skip to main content

Satu

    Terdengar suara dering telepon genggam berdering dari balik dua tubuh yang masih meringkuk dibalik selimut. Adrian melepas pelukannya pada punggung polos milik seorang wanita yang masih terlelap disampingnya. Entah siapa namanya. Adrian lupa, mungkin Ely, atau Milly, atau bisa jadi Riri. Adrian merenggangkan tubuhnya sejenak, dilihatnya layar telepon genggamnya yang sudah berhenti berdering, sebuah pesan teks tertera di layarnya.

Fri, 4 nov 2011
Received 07:00 am
Asami :
Mas. Selamat pagi. Bagaimana Makassar? Jangan lupa sarapan ya.
Oh, ya di Jakarta hujan lebat. Saya menginap di rumah Hana. Nanti kalau pulang hati-hati ya.

    Adrian tersenyum datar. Kemudian beranjak bangun lantas memakai kemejanya. Kemudian pergi setelah menuliskan sesuatu dikertas dan menyelipkannya ke dalam sepatu hak tinggi berbahan beludru merah muda di atas lantai.

    Pagi itu Asami sudah mengenakan gaun biru muda panjang dengan cardigan rajut putih yang simpel. Hujan turun deras di depan pelataran sebuah Mall besar, sebuah taksi berwarna biru muda berhenti di depannya. Asami bergegas masuk sembari membawa belanjaannya yang cukup banyak. Sejauh pemandangan hanya bulir-bulir air yang menetes deras dari langit yang muram. Orang-orang berlarian menghindari kebasahan, beberapa kendaraan beroda dua menepi dibawah jembatan layang. Pikirannya terlempar jauh pada sang suami. Dua hari lagi ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga, tapi Adrian masih sibuk mengurusi proyek resort keluarganya di Makassar.

     Asami dan Adrian hanya terpaut dua tahun, Adrian adalah senior Asami di sebuah universitas negeri di Bandung. Semasa kuliah dulu, Asami tidak mengenal Adrian, yang ia tau hanyalah Adrian seorang yang supel karna memiliki banyak teman di kampus. Ya, mereka menikah karena perjodohan. Kakek Adrian adalah sahabat dekat Kakek Asami, seorang pribumi yang mengenalkan budaya Indonesia kepada kakek Asami yang bekerja sebagai sekertaris pemerintahan pada masa pendudukan Jepang, hingga kakek Asami memutuskan untuk menetap saja di tanah air sahabatnya meski masa pendudukan sudah berakhir.

    Kepribadian mereka sungguhlah bagai air dan api. Asami tau berbagai buku bagus di perpustakaan besar di kampusnya, dan tak mengenal Adrian. Sedangkan Adrian tau berbagai jenis mahasiswi cantik di seluruh penjuru kampusnya, kecuali Asami sebab ia lebih senang bergumul dengan buku-buku dan debu perpustakaan. Keduanya tak bisa menolak ketika keluarga masing-masing menyodorkan pilihan menikah muda lewat perjodohan. Adrian berisiko tak dapat saham resort milik kakeknya jika menolak, dan Asami adalah anak yang penurut dan tak pernah punya keinginan macam-macam, ia tak bisa menolak jika itu untuk kakek kesayangannya.

    Dua hari lagi 3 tahun sudah lamanya sepasang tubuh yang hidup bersama tanpa tau arti mencinta. Rumah besar mereka bagai panggung sandiwara tanpa sutradara. Jalani saja semua seolah apa adanya, agar tiket pertunjukan habis terjual dan penonton puas. Adrian masih sering bermain dengan wanita lain di luar rumah, dan bukan Asami tak tau, ia hanya tak mau pertunjukan ini gagal ditengah klimaks cerita.

She looks like the real thing
She tastes like the real thing
My fake plastic love
But I can't help the feeling
I could blow through the ceiling
If I just turn and run

Radio Head – Fake Plastic Trees

    Adrian duduk terdiam di bandara menunggu pengumuman pesawatnya untuk pulang. Ia tak membawa apa-apa untuk istrinya di rumah. Bukan tak ingin, sebab ia tak tau apa yang pantas dan Asami inginkan sebagai oleh-oleh. Ia tak benar-benar mengenal istrinya sendiri. Lagi pula membawa atau tak bawa bukan hal penting. Asami akan tetap memasang senyum manis dan perlakuan yang baik sepulangnya nanti seperti yang sudah-sudah dan selalu dilakukan oleh istrinya. Membosankan. Bagi Adrian, Asami hanya punya segala yang laki-laki di dunia ini inginkan sebagai prasyarat menjadi istri idaman. Sehingga ia begitu mudah untuk ditakhlukan, begitu membosankan. Membuatnya mati rasa. Tak ada gairah untuk sekedar menoleh dan memperhatikan Asami lebih dekat.

     Benar saja, hujan turun deras sesampainya di Jakarta. Dan hal itu pula yang membuat perjalanan udaranya jadi lebih lama. Hari sudah larut dalam gelap, tapi Ibukota masih belum begitu lelap. Adrian memutuskan untuk mampir disebuah Bar, tempatnya biasa melepas penat. Sekedar minum, menikmati musik atau terkadang melanjutkan malam dengan wanita yang entah dari mana asalnya. Ia duduk di pojok khusus pemesan pribadi, dengan tirai transparan yang menjuntai memperlihat kan bartender yang sedang meracik minuman, dan beberapa muda-mudi yang datang dan pergi di lantai dansa.

    Matanya berhenti ketika gelas Tequila keempatnya akan ia teguk, diletakannya lagi ke atas meja. Matanya memicing memfokuskan pandangan pada sudut arah kirinya. Disana seorang wanita berambut pendek sebahu terlihat sedang duduk menikmati musik dan Vodka-nya. Lampu di ruangan jatuh memantul dengan sempurna di tubuhnya, ia berbalut dalam gaun hitam selutut lengan pendek yang terbuka dibagian belakang, mempertontonkan kulit punggungnya yang putih bersih. Ia duduk membelakangi Adrian. Adrian tertegun sejenak, hasrat alaminya tertantang untuk mendekati. Ia bangun dari duduknya, membawa gelasnya pindah kearah sang perempuan asing yang sedari tadi dikagumi diam-diam.

    Wanita itu memutar-mutar jemari telunjuknya yang lentik di bibir gelasnya. Wajahnyanya menunjukan ekspresi aneh ketika seorang laki-laki muda muncul dihadapannya, kemudian tersenyum sembari membenarkan posisi duduknya.

“Adrian. Boleh ikut duduk disini?”
Adrian menyodorkan tangannya untuk dijabat, disambut dengan senyum dan sebuah anggukan tanda setuju oleh sang penghuni meja di pojok ruangan.
“Amaya.. sendirian saja?”
“ya seperti yang kamu lihat. Amaya, namanya bagus, saya jarang mendengar perempuan dengan nama Amaya, biasanya hanya Maya” ujar Adrian sembari memperhatikan wajah Amaya yang Asia sekali, riasan wajah yang cantik, melengkapi tubuhnya sempurna. Tapi sekilas mirip seseorang, entah siapa.
“artinya malam hujan.. nama panjang saya Amaya Amizuki”. jawab Amaya seraya tertawa kecil, ia menangkap gelagat Adrian yang sedang menggodanya.
“kamu bukan orang Indonesia?”
“ya, saya baru 3 tahun di Indonesia, I’m a Japanese hahaha”
Anata wa totemo utsukushidesu kontentsu
“hahaha arigatou. kamu bisa bahasa Jepang?”
“sebenarnya tidak, itu hanya refleks saja ketika saya melihat wajah kamu”.
“hahaha kamu lucu sekali. Saya jadi malu. Kamu juga tampan. Tampan sekali malah”. Amaya balas memuji.

    Suasana menjadi sangat akrab sesudahnya. Mereka berbincang tentang apa saja, ternyata Amaya tak hanya cantik dan menggoda, ia juga berwawasan luas. Mereka seolah serius ketika bicara mengenai naik turunnya harga saham di Indonesia, tertawa geli bersama ketika ia bercerita tentang pengalamannya pertama kali belajar bahasa Indonesia dan kaget ternyata Amaya pernah menjadi seorang yang menekuni bela diri aikido (seni bela diri Jepang). Diam-diam Adrian semakin kagum padanya, singkatnya dirangkum saja dalam kata jatuh cinta. Sebab Amaya berbeda dengan wanita-wanita yang selama ini ia kencani.

    Mereka berbincang hingga malam semakin larut. Tanpa sadar Adrian membawanya pulang kerumah, seorang tokoh pendukung masuk ke dalam panggung. Menambah semarak pertunjukan. Kebetulan Adrian ingat istrinya sedang tidak dirumah, sedang menginap di rumah temannya. Malam itu mereka hanyut. Tarik menarik bagai magnet. Amaya sengaja menarik kutub utaranya. Adrian baru saja menemukan kutub selatannya. Raden Arjuna menemui Banowati-nya, berkasih-kasihan di taman kencana. Tak peduli apa kata orang, tak takut murkanya Raja Duryudana. Persetan katanya, cinta kan kita yang merasa. Amaya adalah banowatinya. Malam itu Adrian benar-benar merasa bagai sang Arjuna.

I’ve heard some talk
They say you think I’m fine
Yes, I’m in love
And what I’d do to make you mine
Tell me now, is it so?
Don’t let me be the last to know

Burt Bacharach – This Guy is in Love With You

    Adrian terbangun dari malam panjangnya. Hidungnya mengendus bau nasi goreng buatan Asami kesukaannya. Sejenak tersentak dan kaget, ia pikir Asami sudah pulang dan menemukannya baru saja tidur di ranjang mereka dengan perempuan lain. Ia menatap hening piring nasi goreng dan segelas air putih di meja samping kiri tempat tidurnya. Tak ada Asami di hadapannya. Ia menoleh ke sisi kanannya, tak ada Amaya pula disana. Lalu apakah semalam Amaya itu hanya mimpi? Kalau iya, mengapa rasanya begitu nyata, bahkan aroma tubuhnya masih bisa tercium dari seprai di ranjangnya. Adrian bangun, mandi lalu sarapan di depan teras rumahnya. Di luar masih dengan gerimis dan bau tanah basah yang mengiringi hening bercampur pening di kepala Adrian. Ia masih menyangsikan kesadarannya sendiri tadi malam? apakah semalam ia benar-benar bersama Amaya? Lalu siapa yang membuatkan nasi goreng yang sekarang sedang ia makan? Kemana Asami sekarang, sebab hanya istrinya yang tau bagaimana membuat nasi goreng berwarna putih tanpa kecap dan telur setengah matang kegemarannya.

    Dua wanita yang dalam waktu singkat membuatnya jadi bingung, kemana menghilangnya. Suara telepon rumahnya berdering, membuyarkan lamunannya. Ia berbincang sebentar lalu menutup teleponnya kembali dengan wajah memaku bingung. Suara hujan diluar kembali deras tak ingin kalah. Barusan itu, seorang pengacara wanita yang menghubunginya lewat telepon rumah, mengkonfirmasi Adrian bahwa Asami sudah melayangkan surat cerai ke pengadilan agama. Dan sekarang Asami belum juga pulang ke rumah.

23 November 2012.

    Seorang pramugari menawarkan Adrian ingin minum kopi atau jus buah, Adrian masih terdiam memandangi awan yang berarak di lautan birunya langit, mendatangkan rindu yang entah sesungguhnya untuk siapa. Sebuah foto terjatuh dari balik selimutnya. Sang pramugari memungutnya, tersenyum melihat seorang gadis berwajah Indonesia setengah Jepang mengenakan gaun cantik berwarna putih dengan seorang pria dihadapannya yang mengenakan setelah pengantin pria.
“terimakasih..” ujar Adrian seraya menerima foto yang jatuh ke lantai, membersihkannya. Lalu memandanginya dengan tatapan kosong.

14 Desember 2012.

    Adrian berjalan-jalan sendirian di stasiun Shibuya malam hari, masih terlihat lalu lalang orang-orang yang naik dan turun dari kereta listrik, tak peduli dinginnya udara malam bercampur rintik salju yang jatuh perlahan. Sudah hampir sebulan ia tinggal di negeri matahari terbit ini. Setelah setahun berlalu ia hidup sendirian di Indonesia, Asami yang diketahui dari seorang kerabat dekatnya pergi ke tempat kelahiran kakeknya. Ia mengurusi dirinya sendirian hanya dengan pembantu dan tukang kebun, di panggung sebesar itu, ia memainkan peran sendirian, bermonolog tanpa lawan main. Ternyata Asami punya peran yang besar, meski tak pernah ia sadari, dari mulai ia bangun, hingga tertidur lagi, dari mulai memasangkan dasi hingga memasangkan selimut ketika ia tidur. Atau tetap menunggu jika ia sedang tak ingin pulang ke rumah. Status pernikahannya pun belum benar-benar bercerai. Ia bagai anak ayam yang kehilangan induknya. Tak tau mesti bagaimana. Rutinitasnya bersenang-senang justru jadi membosankan sebab sesudah itu pulang kerumah pun ia kembali jadi dirinya yang sendiri.

    Seorang wanita muda berlari kecil menerobos beberapa orang yang sedang berjalan santai di sisi stasiun. Termasuk Adrian, ia menabrak bahunya, membuat Adrian menoleh, tapi sang wanita sudah meneruskan lari kecilnya ke arah pintu gerbong kereta yang baru berhenti. Adrian terdiam. Ia ingat wajahnya sekilas. Mirip dengan seorang yang pernah hidup bersamanya. Wajah yang polos tanpa riasan, dengan mata yang teduh. Tapi bisa jadi itu hanya pikirannya saja. Sebab Asami berambut panjang dan selalu diikat satu, wanita yang tadi itu berambut pendek sebahu dengan aroma parfum yang khas yang masih lekat diingatannya. Ah, apakah yang tadi itu Amaya?

    Adrian terpaku di depan kereta, beberapa orang mulai masuk ke dalam gerbong-gerbong yang pintunya akan tertutup otomatis sebentar lagi. Ia segera berlari ikut masuk kedalam gerbong kereta yang tak lama kemudian mulai berjalan meninggalkan stasiun. Kereta melaju menerobos malam dan salju yang turun semakin lebat. Adrian menemukan lagi Asami-nya, kecantikan pagi miliknya, mengenang lagi Amaya-nya malam hujan yang mempesonanya, dalam satu tubuh.







sabtu, 24 November 2012.
Ms. A,






*Anata wa totemo utsukushidesu kontentsu = pantas kamu cantik sekali 
*Amaya nama anak perempuan dalam istilah Jepang berarti Malam Hujan.
Asami nama anak perempuan dalam istilah Jepang berarti Kecantikan Pagi.
*Aikido merupakan seni beladiri dari Jepang yang ditemukan dan dikembangkan oleh Morihei Ueshiba (1883-1969) pada kisaran tahun 1920-an hingga 1960-an. Aikido adalah seni beladiri melatih koordinasi antara jiwa dan badan seorang praktisi sehingga lebih terintregasi dalam menghadapi serangan








Comments

Popular posts from this blog

Surat

Semalam, sebelum matahari membelah dirinya sendiri, dan terbenam bukan pada barat atau timur. Ibu menyuruh ku menutup jendela dan mencegah angin musim dingin masuk dan bertamu. Lalu menyakiti ku yang masih ingin berlindung dalam selimut. yang hangatnya tak pernah lebih atau menang atas rasa hangat yang dari hati mu, pada ku. Dan tiba-tiba saja aku ingin menulis sebuah surat untuk kau, yang sedang berkelana nun jauh entah dimana. Aku ingin tau apa kau juga merasakan dinginnya angin malam musim dingin seperti ku saat ini. Apa kau juga sedang berlindung dalam selimut seperti ku saat ini. Dan yang akan selalu aku ingin ketahui, apa kau juga rindu lalu ingin menulis surat untuk ku seperti yang ku rasakan saat ini. Atau malah kau sedang sibuk menjelajahi dunia, dan lupa pada ku. Lupa pada kita?. Kalau sudah begini aku tak bisa lagi menguasai hati ku sendiri, yang sudah sesak dirasuki rasa keingintahuan ku, atas keberadaan diri mu. Juga dengan hati mu. Ku tulis sebuah surat yang k...

Mudik

Esensi lebaran Meski mengular panjang Tradisi menjamu rindu Yang tak bosan bertamu Kakek nenek semakin renta  Keponakan ramai ceria Sepupu-sepupu yang beranjak dewasa Saudara jauh yg tampan dan jelita Aku masih tetap sediakala Sekedar rindu pada teh kental buatan mu, Ms. A, 

Tubuh Ibu

sebuah rujukan untuk Nya : katakanlah aku “jalang..” karna tak bisa ku penuhi hasrat mu atau, sebut aku “kotor..” kalau tak dapat ku daki tebing tertinggi mu karena di balik kemeja mu lah hidup ku, kau jahit meski aku harus robek dan, memang sudah maka ku beri izin kau untuk pereteli jiwa ku dan silahkan telanjangi nurani ku supaya anak-anak ku berhenti menangis tiap kali lihat seragam dan tidak lagi makan nasi aking.. 22 Desember, 2009 Ms. A,