Skip to main content

suatu hari di sebuah senja..



"selamat datang di toko Kehidupan"
sang pemilik toko tersenyum semanis mungkin.
"segalanya tersedia disini"
"mau cari apa?"
yang ditanya diam saja
"pasti bingung ya.."
pemilik toko memanggil pelayannya, membisiki sesuatu. tak lama kemudian pelayan yang dibisiki pergi ke gudang lalu kembali lagi membawa kotak-kotak dengan berbagai macam ukuran.
"nah ini mas, ini yang paling dicari sama orang-orang disini"
sang pemilik toko menunjukan beberapa kotak besar bertuliskan 'Kebahagiaan'
"saya mau satu"
jawab pemuda yang matanya tak lepas dari puluhan kotak-kotak di belakang pemilik toko.
"ada berbagai macam persepsi dan ukuran mas, mas mau yang mana?"
"yang ini saja.."
tangannya gemetar menunjuk sebuah kotak bertuliskan 'Kebahagiaan' yang paling kecil ukurannya.
"be.. be-ra-pa?"
tanyanya dengan suara sedikit takut. takut uangnya tak cukup.
sang pemilik toko dengan tegas menuliskan angka-angka rupiah di sebuah kertas lalu menunjukannya pada pemuda tersebut. sang pemuda terbelalak, kaget. dengan tangan yang gemetar, sambil sesekali melirik ke arah pintu masuk toko, pacarnya yang cantik menunggu disana. hari ini hari Valentine hari kasih sayang. sepasang muda mudi ini berniat saling tukar kado nanti malam.
"gimana? masnya tertarik? ini sudah yang paling murah loh"
ujar pemilik toko merayu.
sang pemuda bepikir sebentar, dengan pilihan pacarnya ngambek atau uangnya habis.
"sudah yakin"
tanya pemilik toko
"saya.. "
pemilik toko menunggu jawaban
"saya ga jadi beli!"
pemuda tersebut berlari keluar toko tersebut. menjauh dari keramaian kota sore itu. menjauhi lampu warna-warni di depan toko yang bertuliskan 'Kehidupan'. terus berlari, pacarnya yang bingung ikut mengejar pelan-pelan dari belakang, takut heelsnya patah.
"yang? kamu kenapa? yang..."


***


mereka seakan saling mengejar. menjauhi keramaian.
sampai sang gadis berteriak sambil menata nafas.
"yang aku capek! berenti!"
sang pemuda berbalik arah
"kamu kenapa sih?"
keduanya menata nafasnya masing-masing, sang gadis menyeka keringatnya yang merusak riasan.
ketika keadaan mulai normal, sang pemuda membuka mulutnya.
"aku takut....."
"toko itu menyeramkan. semuanya mahal.. aku ga bisa beli apa-apa buat kamu"
pemuda itu menundukkan kepalanya, menatap trotoar jalan. hari semakin sore sebentar lagi magrib.
mereka berdua terdiam.. agak lama..
sang gadis mengucir kembali rambutnya yng sudah cantik tergerai. mengindari gerah ang menyergap sehabis lari tadi.
"aku juga cuma punya ini buat kamu"
sembari mengeluarkan sebuat kotak makan besar dari tasnya.
"kamu suka spagetti kan?"
sang pemuda hanya mengganguk lemah, sambil menatap kosong.
"aku juga cuma punya ini, karna kamu ga bisa kasih apa-apa, ini aja kita bagi dua.. oke?"
dibukanya tempat makan besar itu, bau khas saus mie itali menyeruak, spagetti dengan bakso, kesukaan sang pemuda.
"tunggu, aku rasa aku punya sesuatu juga.."
"apa?"
pemuda itu mengambil sesuatu dari dalam saku jaketnya, sesuatu yang kecil sepertinya, yang tertutup jari tangan karna digenggam. lalu menarik telapak tangan pacarnya, digenggamnya erat-erat dengan tangan yang tadi mengambil hadiah di sakunya.
sang gadis hanya tertawa.

bukanya tangan yang tergenggam, lalu ia gantikan dengan tangan sang gadis.
"yang palng laris di toko tadi, adalah bahagia, yang. aku tadinya udah milih yang paling kecil buat kamu. tapi uang ku seperempatnya aja ga cukup. karna aku kira kamu juga mau beli hadiah yang mahal buat aku. eh ternyata kamu juga cuma ngasih spagetti.."
"hahahahahaha terus?"
sang gadis tertawa mendengarnya, sekaligus bingung apa maksudnya.
"kita ga perlu beli bahagia. bahagia ku itu kamu"
sambil dibuka genggaman tangan yang tadi ditutupi, tak ada apa-apa disana. yang ada hanya tangan si gadis.

mereka tertawa
menikmati makan spagetti dan menonton senja yang menghias cakrawala.

***

di sudut lain di toko Kehidupan
sang pelayan bertanya pada sang pemilik toko
"pak memangnya isi kotak yang ada tulisan 'Kebahagiaan tadi itu apa sih? kok mahal buanget sampe si mas yang tadi jadi kabur"

sang pemilik toko cuma tersenyum hangat pada pelayannya,
lalu membuka kotak kebahagiaan paling kecil yang tadi dipilih sang pemuda.
isinya kosong...

"bahagia itu mahal, karna mesti dibayar dengan keyakinan. kalo kamu yakin kamu sudah bahagia, kamu tidak pelu uang banyak untuk beli kebahagiaan".






















buat orang yang selalu ngajarin saya kalo bahagia itu ga mesti mahal.


Minggu 1 Juli 2012
23:11






Ms. A,







Comments

Popular posts from this blog

Surat

Semalam, sebelum matahari membelah dirinya sendiri, dan terbenam bukan pada barat atau timur. Ibu menyuruh ku menutup jendela dan mencegah angin musim dingin masuk dan bertamu. Lalu menyakiti ku yang masih ingin berlindung dalam selimut. yang hangatnya tak pernah lebih atau menang atas rasa hangat yang dari hati mu, pada ku. Dan tiba-tiba saja aku ingin menulis sebuah surat untuk kau, yang sedang berkelana nun jauh entah dimana. Aku ingin tau apa kau juga merasakan dinginnya angin malam musim dingin seperti ku saat ini. Apa kau juga sedang berlindung dalam selimut seperti ku saat ini. Dan yang akan selalu aku ingin ketahui, apa kau juga rindu lalu ingin menulis surat untuk ku seperti yang ku rasakan saat ini. Atau malah kau sedang sibuk menjelajahi dunia, dan lupa pada ku. Lupa pada kita?. Kalau sudah begini aku tak bisa lagi menguasai hati ku sendiri, yang sudah sesak dirasuki rasa keingintahuan ku, atas keberadaan diri mu. Juga dengan hati mu. Ku tulis sebuah surat yang k...

Mudik

Esensi lebaran Meski mengular panjang Tradisi menjamu rindu Yang tak bosan bertamu Kakek nenek semakin renta  Keponakan ramai ceria Sepupu-sepupu yang beranjak dewasa Saudara jauh yg tampan dan jelita Aku masih tetap sediakala Sekedar rindu pada teh kental buatan mu, Ms. A, 

Tubuh Ibu

sebuah rujukan untuk Nya : katakanlah aku “jalang..” karna tak bisa ku penuhi hasrat mu atau, sebut aku “kotor..” kalau tak dapat ku daki tebing tertinggi mu karena di balik kemeja mu lah hidup ku, kau jahit meski aku harus robek dan, memang sudah maka ku beri izin kau untuk pereteli jiwa ku dan silahkan telanjangi nurani ku supaya anak-anak ku berhenti menangis tiap kali lihat seragam dan tidak lagi makan nasi aking.. 22 Desember, 2009 Ms. A,