Harimau!
Hap! Satu potongan kecil daging ayam dikunyahnya untuk keempat kalinya, kali ini dilempar sang pelatih setelah Momo berhasil melompati lingkarang api dan para penonton dibuatnya jadi terkagum-kagum. Termasuk aku, dan kedua puteri kembar ku Sheila dan Sahara, ku lihat dua pasang bola mata lentik yang terpatri dan tangan kecil mereka yang tak hentinya bertepuk tangan. Aku pun sibuk mengatur lensa kamera ku pada Momo, dan berbagai atraksinya.
Hari sabtu dan minggu memang sudah kewajiban ku untuk mengajak sepasang jelmaan ‘dewi shinta’ ku, jalan-jalan atau sekedar menginap di apartemen sempit ku. Karena mas Har, harus pergi ke Bandung untuk urusan bisnisnya dengan para cukong dari Korea yang akan ikut berinvestasi saham di perusahaan tempatnya bekerja. Atau mungkin sekedar mengunjungi Dewi, sekertaris cantiknya yang keturunan Eropa-India itu, yang membuat aku dan mas Har berpisah. Tapi aku kasihan pada Sheila dan Sahara kalau mereka harus menghabiskan dua hari liburannya di apartemen sempit ku yang isinya hanya kamar, dapur, laptop, lemari buku dan tempat cuci foto, jadi ku ajak mereka berdua ke kebun binatang, dan kebetulan hari itu sedang ada pertunjukan hewan.
“ayo Momo..! naik! naik!” perintah sang pelatih, seorang lelaki setengah baya yang berperawakan sedang jika di banding dengan tubuh Momo, asuhannya.
“aauuuummrrrrwww..” Momo mengaum dan menolehkan kepalanya ke arah penonton ketika ia berhasil mencapai puncak pohon kelapa yang tidak terlalu tinggi itu.
Seorang ibu yang duduk dengan anak remajanya di sebelah ku langsung menampakan ekspresi wajah ngeri. Namun, tidak buat aku dan anak-anak ku, kami justru geli melihat tatapan Momo yang sok galak.
Pantaskah Momo menurunkan harga dirinya yang terlahir sebagai seekor harimau? Atau karena ia sudah lupa bahwa kodratnya yang sesungguhnya adalah menjadi seekor hewan yang biasa dianggap buas, dalam mitos orang-orang di pulau Jawa seekor harimau malah dijadikan sosok keramat yang dihormati sebagai penjaga hutan dan nenek moyang. Sebagai harimau yang lucu dan jinak, haruskah ia disamakan dengan simpanse yang serba bisa di kandang sebelah? Kemudian, di beri nama ‘Momo’, nama yang terkesan lucu yang hanya cocok untuk seekor koala betina. Bukan untuk seekor harimau jantan sepertinya, karena seekor harimau tak perlu sebuah nama yang menggemaskan. Harimau ya harimau, titik.
Dan Momo, kini ia jadi tontonan ratusan pasang mata, dalam pertunjukan di sebuah kebun binatang, tak ada lagi aura kegaharan atau buas padanya. Ia merasa cuma jadi tontonan, titik.
“Bun, nanti kalo pulang Eila mau dibeliin boneka kaya Momo ya Bunda..” ujar Sheila seraya menarik-narik ujung kemeja ku.
“Ara juga mau Bunda..” sahut si adik Sahara tak mau kalah.
“iya nanti, kita beli boneka Momo dua ya.. satu buat kakak, satu buat dede..”
Momo mulai turun dari pohon kelapa, dan menghampiri sang pelatih untuk mendapatkan sepotong kecil daging ayam beku. Namun ketika sang pelatih menyuruhnya untuk melakukan atraksi selanjutnya, Momo terlihat enggan, matanya sayu, ia menelungkupkan kepalanya tanda tak mau. Sepertinya mulai letih, dan bosan melakukan atraksi. Sang pelatih tak mau kalah, ia mengambil tiga potong ayam beku sekaligus untuk mengiming-imingi Momo supaya lekas bersemangat lagi, dan tak ada reaksi, Momo tak mau menanggapi pelatihnya lagi. Para penonton bingung, mengapa pertunjukan yang sudah dibayar seharga 50 ribu rupiah perorang macet begitu saja di tengah permainan, hanya karna sang bintang, Momo tak mau lagi beratraksi.
Ia mulai sadar, ratusan pasang mata itu mulai menusuki semua sisi tubuhnya dari segala arah, sakit. Dan sang pelatih tak jua membela kalau sudah begini. Lampu-lampu sorot di pojokan panggung membuat matanya silau, dan lagi-lagi sunyi, semua menunggu respon darinya, nafasnya tersenggal satu-satu, ia amat letih dan bosan. Kenapa takdir begitu membelokan kodratnya sebagai yang di-takuti bukan yang di-tontoni. Otaknya mulai dirasuki bisikan-bisikan menjerumuskan, kalau saja ia menepati kodratnya sebagai seekor harimau, dengan sekali terkam bukan hanya satu ember potongan kecil ayam beku yang bisa ia dapat, tapi 50 kg daging manusia di tubuh pelatihnya yang tukang suruh itu, atau bahkan lebih kalau ia mau.
“kak, halimaunya bobo ya?” bisik Sahara pada Sheila yang juga bingung melihat tingkah aneh Momo.
Sang pelatih mulai kesal rupanya, sekaligus takut kalau-kalau puluhan penonton bangung dari tempat duduk dan marah karena pertunjukan baru setengah berjalan, dan melakukan hal-hal nekat nantinya. Di ambilnya sebuah cambuk dari peti peralatan, dan ia sabetkan di tubuh Momo, seperti seorang ayah yang memukul anak remajanya yang ketahuan membolos sekolah. Sebuah luka memanjang menghiasi punggung Momo, beberapa penonton protes atas perbuatan sang pelatih yang tidak seharusnya dilakukan. Terlambat, sang pelatih telah melakukannya, dan kali ini satu lagi luka kecil yang Momo dapat karena tak mau mengikuti sang pelatih.
“aaaaaarrrrrrrwwww...” balas Momo.
Suara ambulance dan jeritan para penonton yang berhamburan dari arena pertunjukan.
Sebuah panggung kecil berukuran 15 x 15 meter dipenuhi bercak darah. Sang pelatih kehilangan tangan kirinya.Dan aku dihukum mas Har, tidak boleh mengajak Sheila dan Sahara jalan-jalan lagi selama sebulan.
23:49
11 des 2009
cheers,
Ms. A
Comments
Post a Comment